Krisis Sampah Bandung Belum Usai: TPA Sarimukti Overload, Kota Kembang Terancam Darurat Lagi

Krisis Sampah Bandung Belum Usai: TPA Sarimukti Overload, Kota Kembang Terancam Darurat Lagi

Teman Voks, euforia Lebaran mungkin sudah berlalu, tapi satu masalah klasik di Kota Bandung kembali jadi sorotan: sampah. Di berbagai titik seperti Ciwastra, Cijambe, Jalan Indramayu, Terminal Leuwipanjang, hingga Gedebage, tumpukan sampah kembali menggunung pasca hari raya.

Bahkan, di TPS Sukahaji, tinggi sampah dilaporkan mencapai hingga 4 meter. Kondisi ini terjadi meskipun akses pembuangan ke TPA Sarimukti sudah kembali dibuka.

Masalah Lama yang Tak Pernah Selesai

Teman Voks, persoalan sampah di Bandung bukan cerita baru. Selama puluhan tahun, kota ini terus menghadapi siklus yang sama: penumpukan, krisis, lalu solusi sementara yang tak bertahan lama.

TPA Sarimukti sendiri sejatinya hanyalah tempat pembuangan sementara yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Awalnya dirancang menampung sekitar 1,9 juta meter kubik sampah, kini volumenya sudah melonjak jauh melampaui kapasitas.

Bahkan, estimasi terbaru menunjukkan volume sampah di Sarimukti sudah menembus lebih dari 17 juta meter kubik, atau hampir 9 kali lipat dari kapasitas awal. Kondisi ini membuat TPA tersebut dipastikan akan ditutup permanen pada 2028.

Pertanyaan Besar: Sampah Bandung Mau ke Mana?

Penutupan Sarimukti memunculkan satu pertanyaan besar: ke mana sampah Bandung akan dibuang setelah 2028?

Sebagai penggantinya, proyek TPPAS Legok Nangka direncanakan beroperasi. Namun, jadwal terbaru menunjukkan fasilitas ini baru siap digunakan pada 2029.

Artinya, ada potensi “kekosongan” sistem pengelolaan sampah selama satu tahun—situasi yang bisa memicu krisis baru jika tidak diantisipasi dengan matang.

Produksi Sampah Tinggi, Pengolahan Masih Minim

Setiap harinya, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.300 ton sampah. Namun, kemampuan pengolahan mandiri kota ini baru mencapai sekitar 365 ton per hari.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar sampah tersebut adalah sampah organik, seperti sisa makanan dan daun, yang jumlahnya mencapai lebih dari 600 ton per hari.

Sayangnya, solusi yang selama ini diambil justru banyak berfokus pada sampah anorganik, seperti plastik dan kertas.

Solusi Instan yang Kontroversial

Teman Voks, berbagai solusi sempat dicoba untuk mengatasi krisis sampah ini. Mulai dari penggunaan insinerator hingga metode RDF (Refuse-Derived Fuel).

Namun, kedua pendekatan ini menuai kontroversi. Insinerator bahkan sempat dihentikan karena emisinya melebihi ambang batas yang ditetapkan pemerintah pusat.

Sementara RDF dinilai hanya memindahkan masalah, karena tetap menghasilkan emisi saat digunakan sebagai bahan bakar di industri lain, seperti pabrik semen.

Program Pemilahan Sampah Masih Belum Maksimal

Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung juga mulai menginisiasi program berbasis masyarakat seperti Gaslah, yang melibatkan petugas pemilah sampah di tingkat RW.

Program ini sebenarnya berada di jalur yang tepat, karena fokus pada pemilahan dari sumber. Namun, kapasitasnya masih jauh dari cukup.

Jika setiap RW hanya mampu mengolah sekitar 25 kilogram sampah per hari, total kontribusinya hanya sekitar 40 ton—jauh dari total sampah organik harian yang mencapai ratusan ton.

Tantangan Besar: Kesadaran dan Regulasi

Teman Voks, masalah utama lainnya adalah rendahnya tingkat pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Banyak warga masih mencampur sampah organik dan anorganik, sehingga menyulitkan proses pengolahan.

Hal ini diperparah dengan belum adanya aturan tegas yang mewajibkan pemilahan sampah. Selama ini, pendekatan yang digunakan masih sebatas imbauan, bukan kewajiban.

Padahal, tanpa regulasi yang kuat, perubahan perilaku masyarakat akan sulit terjadi secara masif.

Saatnya Fokus ke Sampah Organik

Melihat kondisi ini, banyak pihak menilai solusi seharusnya difokuskan pada pengolahan sampah organik. Program seperti rumah maggot, Buruan Sae, hingga eco-enzyme dinilai lebih relevan dan berkelanjutan.

Selain ramah lingkungan, pendekatan ini juga bisa melibatkan masyarakat secara langsung dan mengurangi beban sampah dari sumbernya.

Waktu Semakin Sempit

Teman Voks, waktu menuju penutupan TPA Sarimukti pada 2028 semakin dekat. Sementara itu, solusi jangka panjang belum sepenuhnya siap.

Bandung pernah mengalami krisis sampah besar pada 2005 dan 2023. Tanpa langkah serius dan terintegrasi, bukan tidak mungkin krisis serupa akan kembali terjadi dalam waktu dekat.

Kini, semua mata tertuju pada langkah pemerintah dan partisipasi masyarakat. Karena jika tidak ada perubahan nyata, pertanyaan ini akan terus menghantui:

Sampah Bandung, mau dibawa ke mana?

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

tumbang-barcelona-gagal-tembus-semifinal-liga-champions-barcelona-NifCm
Barcelona Gagal Comeback Dramatis, Atlético Madrid Melaju ke Semifinal Liga Champions
64e46f909d07a
Krisis Sampah Bandung Belum Usai: TPA Sarimukti Overload, Kota Kembang Terancam Darurat Lagi
e595372d3bbf0dcd36c39a89b8e9240a-FAK_6756
Kasus Dugaan Pelecehan di FHUI Terungkap, 20 Mahasiswi dan 7 Dosen Disebut Jadi Korban
Screenshot_20260325_155253_Chrome-4078116012
Jamaah Indonesia Dilarang Masuk Mekkah Mulai 18 April 2026, Ini Aturan Terbaru Jelang Haji
xbcgDcfcnS
FIFA Pertimbangkan Playoff Tambahan Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Masih Punya Peluang?

#ADVERTISE