Iran Tegas Tolak Serahkan Pengayaan Uranium di Tengah Negosiasi dengan AS
Bandung, Voks Radio – Teman Voks, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencuat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerahkan program pengayaan uranium dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan di tengah upaya kedua negara membuka kembali dialog diplomatik setelah bertahun-tahun hubungan yang membeku.
Abbas Araghchi menyebut Iran tidak akan tunduk pada tekanan, termasuk ancaman perang yang disampaikan oleh pihak Amerika Serikat. Ia bahkan mengaku meragukan keseriusan Washington dalam menjalani perundingan yang baru saja dimulai.
“Tidak Ada yang Berhak Mendikte Iran”
Dalam pernyataannya kepada wartawan, Minggu (8/2), Abbas menegaskan bahwa sikap keras Iran bukan tanpa alasan. Menurutnya, pengayaan uranium adalah hak kedaulatan negaranya yang tidak bisa dinegosiasikan begitu saja.
“Mengapa kami begitu bersikeras pada pengayaan dan menolak untuk menyerahkannya, bahkan jika perang dipaksakan kepada kami? Karena tidak ada yang berhak mendikte perilaku kami,” ujar Abbas, seperti dikutip dari AFP.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Iran yang selama ini konsisten mempertahankan program nuklirnya, meskipun terus mendapat tekanan dari negara-negara Barat. Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankan bertujuan untuk kepentingan damai, bukan pengembangan senjata nuklir.
Kehadiran Militer AS Tak Goyahkan Sikap Teheran
Teman Voks, pernyataan Abbas juga menyinggung langkah Amerika Serikat yang mengerahkan kekuatan militernya ke kawasan Timur Tengah. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
Namun, Abbas menegaskan bahwa kehadiran militer tersebut tidak membuat Iran gentar. “Pengerahan militer mereka di kawasan ini tidak menakut-nakuti kami,” ujarnya dengan tegas.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Iran tidak ingin negosiasi berlangsung di bawah bayang-bayang tekanan militer. Bagi Teheran, diplomasi seharusnya dilakukan atas dasar kesetaraan, bukan ancaman.
Negosiasi Dibuka Kembali Setelah Bertahun-tahun
Amerika Serikat dan Iran diketahui kembali membuka jalur negosiasi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Pertemuan tersebut berlangsung di Oman pada Jumat (6/2), menjadi sinyal awal kemungkinan mencairnya hubungan kedua negara yang selama ini diwarnai ketegangan.
Negosiasi ini dipandang sebagai langkah penting, mengingat sanksi ekonomi Amerika Serikat telah memberikan dampak besar terhadap perekonomian Iran. Mulai dari nilai mata uang yang melemah hingga kesulitan dalam sektor perdagangan dan energi.
Iran Minta Sanksi Dicabut
Dalam perundingan tersebut, Iran mengajukan pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat sebagai tuntutan utama. Abbas Araghchi menyatakan bahwa permintaan itu disertai dengan tawaran “serangkaian langkah membangun kepercayaan terkait program nuklir.”
Meski demikian, detail langkah-langkah tersebut belum dijelaskan secara rinci ke publik. Hal ini membuat banyak pihak, termasuk pengamat internasional, masih mempertanyakan sejauh mana kompromi yang bersedia diberikan oleh Iran.
Tuduhan Bom Nuklir Masih Jadi Isu Utama
Teman Voks, isu pengembangan senjata nuklir kembali menjadi sorotan dalam perundingan ini. Negara-negara Barat dan Israel menuduh Iran berusaha mengembangkan bom nuklir. Israel sendiri sering disebut sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir, meskipun tidak pernah secara resmi mengakuinya.
Iran dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Abbas Araghchi bahkan menyampaikan pernyataan yang cukup simbolis mengenai pandangan negaranya terhadap kekuatan nuklir.
“Mereka takut akan bom atom kami, padahal kami tidak sedang mencarinya. Bom atom kami adalah kekuatan untuk mengatakan ‘tidak’ kepada kekuatan-kekuatan besar,” tuturnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa bagi Iran, kekuatan utama bukanlah senjata, melainkan keberanian politik untuk menolak tekanan dari negara-negara besar.
Jalan Diplomasi Masih Panjang
Meski negosiasi telah dibuka kembali, jalan menuju kesepakatan tampaknya masih panjang dan penuh tantangan. Perbedaan pandangan yang tajam antara Iran dan Amerika Serikat, terutama soal pengayaan uranium dan sanksi ekonomi, menjadi ujian utama dalam proses ini.
Teman Voks, dinamika ini bukan hanya soal dua negara, tetapi juga menyangkut stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan global. Dunia kini menanti, apakah diplomasi akan menemukan titik temu, atau justru ketegangan akan kembali meningkat.