War Uang Baru Jelang Lebaran, Antusiasme Warga Bandung Tak Pernah Surut
Bandung, Voks Radio – Antusiasme masyarakat untuk menukarkan uang baru menjelang Lebaran kembali terlihat dalam layanan penukaran uang yang difasilitasi Bank Indonesia di Kota Bandung. Fenomena “war” kuota penukaran uang baru seolah menjadi ritual tambahan yang selalu hadir setiap menjelang Hari Raya.
Di balik layar gawai dan koneksi internet yang naik turun, tersimpan semangat berbagi yang tak pernah surut. Tradisi membagikan uang baru kepada keluarga dan kerabat saat Lebaran memang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.
Datang Sejak Pagi Demi Uang Baru
Pagi itu, matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika Fitri sudah berdiri di salah satu titik lokasi penukaran uang di Kota Bandung. Jam di ponselnya baru menunjukkan pukul 07.00 WIB, padahal pada tiket digital yang ia genggam, jadwal penukarannya tertera pukul 11.00 WIB.
Fitri ditemui di lokasi penukaran uang di GOR Saparua, Jalan Banda, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kamis (26/2/2026).
“Kemarin saya sempat ke sini, tapi salah lihat tanggal. Jadi harus balik lagi hari ini,” katanya.
Pengalaman sehari sebelumnya membuatnya tak ingin mengambil risiko. Warga Banjaran, Kabupaten Bandung itu sengaja berangkat dari rumah sejak pukul 06.30 WIB demi memastikan tak kembali gagal.
Perjalanan yang cukup jauh ia tempuh untuk menukarkan uang baru senilai Rp 2,8 juta yang akan dibagikan kepada keluarga saat Lebaran nanti.
“Di kabupaten sebenarnya ada titik penukaran dekat rumah, tapi enggak dapat kuota. Malah dapatnya di sini,” ujarnya.
Daftar Online, Antre Sesuai Sesi
Soal pendaftaran melalui situs Pintar milik Bank Indonesia, Fitri mengaku tidak mengalami kesulitan berarti.
“Awal daftar gampang sih, pas dibuka langsung masuk. Enggak terlalu ribet,” tuturnya.
Namun, ia sempat merasa sedikit kecewa dengan teknis di lapangan. Ia membandingkan dengan pengalaman temannya yang datang jauh sebelum jadwal, tetapi tetap bisa mengantre. Sementara kali ini, petugas menerapkan aturan kedatangan sesuai sesi yang tertera di tiket.
“Kalau sekarang harus sesuai jam di tiket,” ucapnya.
Meski demikian, Fitri tetap bertahan. Baginya, uang baru bukan sekadar lembaran rupiah, melainkan simbol kebahagiaan dan tradisi berbagi tunjangan hari raya yang selalu dinanti keluarga.
Perjuangan War Kuota Online
Cerita berbeda datang dari Cici (22) dan Jani (22). Keduanya berasal dari Cirebon, namun kini bekerja dan tinggal di rumah kos di kawasan Baleendah, Kabupaten Bandung.
Bagi mereka, perjuangan justru dimulai jauh sebelum tiba di lokasi penukaran.
“Yang susah itu pas nge-war online. Nunggu berjam-jam,” kata Cici.
Mereka bahkan membuka dua laptop dan tiga ponsel sekaligus demi memperbesar peluang mendapatkan kuota penukaran pada batch pertama. Layar demi layar terus menampilkan proses pemuatan, sementara waktu berjalan dan kuota terus menipis.
Selama sekitar empat jam, mereka menunggu hingga akhirnya berhasil masuk dan mendapatkan kuota.
“Susah banget. Kayaknya tumplek bareng se-Indonesia kali ya,” ujar Cici.
Tahun lalu, mereka sempat mencoba menukar uang baru, namun gagal. Tahun ini, pada batch pertama, keberuntungan akhirnya berpihak.
“Alhamdulillah dapat. Kita kira bakal capek antre lagi, ternyata pas datang langsung diarahkan sesuai sesi, enggak nunggu lama,” kata Jani.
Keduanya menukarkan uang sekitar Rp 2,5 juta yang akan dibawa pulang untuk dibagikan kepada keluarga saat mudik nanti.
Harapan Perbaikan Sistem
Meski berhasil, mereka mengakui sempat gagal pada batch kedua karena sistem yang disebut mengalami kelebihan beban. Jani berharap ke depan sistem pendaftaran bisa lebih baik agar tidak menimbulkan antrean daring yang terlalu panjang.
“Harapannya tahun depan sistemnya bisa diperbaiki lagi supaya enggak terlalu lama nunggu. Mungkin dibagi per provinsi atau per kota, jangan seluruh Indonesia sekaligus. Biar enggak terlalu berat sistemnya,” ujarnya.
Fenomena war kuota penukaran uang baru memang selalu terjadi setiap tahun. Tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa tradisi berbagi amplop Lebaran masih sangat kuat di tengah perkembangan transaksi digital.
Bagi Fitri, Cici, dan Jani, perjuangan tersebut terbayar ketika lembaran rupiah baru akhirnya berada di tangan. Sebab di setiap amplop yang nanti dibagikan, terselip senyum, harapan, dan hangatnya silaturahmi Hari Raya.
Teman Voks, apakah kalian juga ikut war kuota penukaran uang baru tahun ini?