Trump ‘Klaim’ Dirinya Presiden Sementara Venezuela di Tengah Krisis Besar
Voks Radio Bandung — Teman Voks, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengejutkan dunia internasional setelah sebuah unggahan di platform media sosial Truth Social pada Minggu (11/1/2026). Dalam unggahan itu, Trump membagikan gambar yang menunjukkan dirinya sebagai “Acting President of Venezuela” (Presiden Sementara Venezuela) dengan catatan “Incumbent January 2026.”
Unggahan ini menampilkan foto resmi Trump dan informasi yang menuliskan dirinya sebagai Presiden ke-45 dan ke-47 AS, sekaligus “Presiden Sementara Venezuela.” Foto tersebut tampaknya menyerupai halaman Wikipedia yang telah dimanipulasi, dan tidak tercatat dalam entri resmi atau diakui oleh otoritas manapun sebagai fakta hukum.
Latar Belakang Klaim Ini
Klaim Trump muncul menyusul operasi militer AS di Venezuela awal Januari 2026, di mana pasukan Amerika diduga melakukan serangan besar dan berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Kedua tokoh itu kemudian dibawa ke New York dan didakwa atas tuduhan “narcoterorisme” oleh otoritas AS.
Setelah operasi itu, Trump menyatakan bahwa AS akan “mengelola Venezuela sampai ada transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.” Ia juga menyinggung soal pengelolaan cadangan minyak Venezuela oleh otoritas sementara, dengan rencana penjualan 30–50 juta barel dan kontrol dana oleh pemerintahan AS demi “kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.”
Kepemimpinan Venezuela yang Sah
Meski Trump mengklaim gelar tersebut secara online, secara politik dan hukum tidak ada pengakuan internasional bahwa Trump menjadi Presiden Venezuela. Menurut sumber resmi, Delcy Rodríguez — yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Venezuela — telah dilantik sebagai Presiden Interim berdasarkan ketentuan konstitusi negara itu. Rodríguez menegaskan Maduro tetap merupakan presiden yang sah dan menolak klaim campur tangan asing.
Kontroversi dan Reaksi Internasional
Postingan Trump telah memicu kritik luas dan dianggap sebagai langkah provokatif yang dapat memperburuk ketegangan geopolitik. Beberapa pihak menyebut klaim itu sebagai misinformasi yang berpotensi memperuncing konflik dan merusak hubungan internasional, terutama menyusul operasi militer yang dianggap kontroversial.
Pemerintah lain dan sejumlah anggota parlemen di AS justru merespon kekhawatiran soal penggunaan kekuasaan militer tanpa persetujuan kongres melalui langkah-langkah pengawasan tambahan terhadap tindakan eksekutif.
Kesimpulan
Walaupun Trump memposting dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela,” klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum atau pengakuan internasional. Ia lebih dipandang sebagai pernyataan politis yang muncul di tengah krisis kekuasaan di Venezuela dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung. Perkembangan terbaru terus menjadi sorotan global dan dipantau oleh berbagai negara serta organisasi internasional.
Teman Voks, terus ikuti Voks Radio untuk update lanjutan seputar dinamika global yang berdampak pada geopolitik dan hubungan internasional.