Terobsesi Turunkan Berat Badan, Wanita 23 Tahun Alami Gangguan Hormon Serius
Bandung — Teman Voks, keinginan untuk memiliki tubuh ideal memang kerap mendorong banyak orang menjalani diet dan olahraga. Namun, jika dilakukan secara berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh, dampaknya bisa berbahaya bagi kesehatan.
Hal inilah yang dialami seorang perempuan berusia 23 tahun asal Provinsi Zhejiang, China. Alih-alih mendapatkan tubuh sehat, ia justru mengalami gangguan kesehatan serius akibat pola makan rendah kalori dan olahraga ekstrem yang dijalaninya selama berbulan-bulan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa gaya hidup sehat bukan soal seberapa keras berolahraga atau seberapa sedikit makan, melainkan soal keseimbangan.
Menstruasi Berhenti hingga Gangguan Ginjal
Dilansir dari laporan media setempat, perempuan tersebut diketahui rutin berolahraga hingga enam kali dalam sepekan, dengan durasi sekitar 70 menit setiap sesi. Aktivitas ini ia jalani selama beberapa bulan berturut-turut.
Di sisi lain, ia juga menerapkan pola diet rendah karbohidrat dan rendah lemak secara ekstrem. Asupan makanan yang masuk ke tubuhnya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan energi harian.
Akibatnya, ia mulai mengalami sejumlah keluhan serius. Menstruasinya berhenti dalam waktu yang cukup lama, muncul gangguan pada fungsi ginjal, serta insomnia berkepanjangan yang akhirnya memaksanya memeriksakan diri ke dokter.
Kadar Hormon Setara Perempuan Menopause
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Kadar estrogen dalam tubuh perempuan tersebut tercatat sangat rendah, bahkan setara dengan perempuan yang telah memasuki masa menopause pada usia akhir 40 hingga 50 tahun.
Seorang dokter spesialis kandungan menduga ia mengalami hipotalamic amenore, yakni kondisi berhentinya menstruasi akibat gangguan pada hipotalamus, bagian otak yang mengatur keseimbangan hormon tubuh.
Menurut keterangan medis, kondisi ini kerap terjadi pada perempuan yang melakukan olahraga berlebihan tanpa diimbangi asupan energi yang cukup. Tubuh mengalami stres metabolik dan akhirnya “mematikan” fungsi tertentu demi bertahan hidup.
Terobsesi Kebugaran, Tapi Mengabaikan Nutrisi
Dalam sebuah video yang diunggah pada akhir 2025, perempuan tersebut mengakui bahwa dirinya sangat terobsesi dengan kebugaran fisik dan penurunan berat badan. Fokus utamanya hanya pada angka timbangan dan bentuk tubuh, tanpa mempertimbangkan kebutuhan nutrisi.
Ia menghindari karbohidrat dan lemak hampir sepenuhnya. Padahal, kedua unsur tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hormon, fungsi otak, dan metabolisme tubuh.
Kombinasi antara latihan fisik intens, pembatasan kalori ekstrem, serta rendahnya asupan gizi inilah yang diduga kuat menjadi pemicu utama gangguan hormon dan metabolisme yang ia alami.
Tubuh Mengira Sedang Kekurangan Energi
Dokter yang menanganinya menjelaskan bahwa latihan intensitas tinggi dalam jangka panjang, jika disertai asupan kalori yang tidak mencukupi dan penurunan lemak tubuh secara drastis, dapat membuat otak “salah menafsirkan” kondisi tubuh.
Otak akan menganggap tubuh berada dalam kondisi kekurangan energi ekstrem. Akibatnya, tubuh secara otomatis menekan fungsi-fungsi yang dianggap tidak vital untuk bertahan hidup, termasuk sistem reproduksi.
Inilah alasan mengapa menstruasi bisa berhenti dan hormon estrogen turun drastis.
Diminta Hentikan Olahraga Sementara
Sebagai langkah penanganan, dokter meminta perempuan tersebut menghentikan aktivitas olahraga sementara waktu. Ia juga diberikan satu paket besar obat tradisional China untuk membantu proses pemulihan hormon dan metabolisme tubuhnya.
Pemulihan kondisi seperti ini tidak bisa instan. Diperlukan waktu, perbaikan pola makan, serta pengelolaan aktivitas fisik yang lebih seimbang agar tubuh bisa kembali berfungsi normal.
Pentingnya Keseimbangan Gaya Hidup
Teman Voks, kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa hidup sehat bukan berarti hidup ekstrem. Olahraga memang penting, begitu pula menjaga pola makan. Namun keduanya harus berjalan seimbang.
Mengabaikan asupan nutrisi demi menurunkan berat badan justru bisa berdampak panjang, mulai dari gangguan hormon, masalah metabolisme, hingga risiko kesehatan serius di masa depan.
Para ahli menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi harian, mendengarkan sinyal tubuh, serta tidak memaksakan standar tubuh ideal yang tidak realistis.
Karena pada akhirnya, tubuh sehat bukan soal kurus atau tidak, melainkan soal fungsi tubuh yang bekerja dengan baik dan berkelanjutan.