Sering Lupa Nama atau Salah Taruh Barang, Tanda Menua atau Gejala Demensia?

Sering Lupa Nama atau Salah Taruh Barang, Tanda Menua atau Gejala Demensia?

Teman Voks, pernah nggak kamu tiba-tiba lupa nama seseorang yang padahal sering ketemu, atau malah kebingungan nyari barang yang baru aja kamu pegang? Sekilas, hal-hal seperti itu bisa bikin kita waswas, apalagi sekarang makin banyak dibahas soal demensia. Tapi tenang dulu—nggak semua “lupa” berarti tanda gangguan serius.

Dilansir dari Medical Daily, kemampuan mengingat memang bisa menurun seiring bertambahnya usia. Otak butuh waktu sedikit lebih lama untuk memanggil kembali informasi, dan hal itu merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Artinya, sesekali lupa bukan berarti kamu mengalami demensia.

Penuaan Normal vs. Demensia, Apa Bedanya?

Meski sering disamakan, penuaan normal dan demensia adalah dua hal yang berbeda. Pada penuaan normal, seseorang mungkin hanya lupa sesekali—biasanya hal-hal kecil atau kenangan lama yang bisa muncul lagi setelah diingatkan.

Sementara itu, pada demensia, gangguan daya ingatnya bersifat progresif dan makin memburuk dari waktu ke waktu. Penderitanya sering kesulitan mengingat peristiwa baru—misalnya percakapan yang baru terjadi, atau nama orang yang baru ditemui.

Lebih jauh, demensia bukan cuma soal ingatan. Kondisi ini juga bisa memengaruhi kemampuan bahasa, pemahaman, perilaku, hingga kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu kemandirian dan menurunkan kualitas hidup seseorang.

Kapan Harus Mulai Waspada?

Kalau kamu atau orang terdekat mulai sering mengulang pertanyaan yang sama, tersesat di tempat yang seharusnya sudah familiar, atau tampak kesulitan mengurus diri sendiri, sebaiknya segera konsultasi ke dokter.

Diagnosis demensia hanya bisa ditegakkan lewat pemeriksaan medis lengkap—termasuk tes kognitif, pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, hingga pencitraan otak untuk memastikan penyebabnya.

Bisa Jadi Bukan Demensia

Menariknya, masalah ingatan juga bisa disebabkan oleh hal lain di luar demensia. Misalnya karena cedera kepala, gangguan tiroid, efek samping obat, stres, depresi, gangguan tidur, penyalahgunaan zat, atau kekurangan nutrisi penting seperti vitamin B12. Jadi, penyebabnya bisa sangat beragam.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin mendiagnosis seseorang dengan gangguan kognitif ringan atau mild cognitive impairment (MCI)—kondisi ketika gangguan ingatan lebih jelas dibandingkan orang seusianya, tapi belum termasuk kategori demensia. Meski bukan Alzheimer, MCI bisa menjadi tahap awalnya, jadi tetap perlu pemantauan rutin.

Intinya, Teman Voks, tidak semua lupa itu pertanda demensia. Tapi kalau mulai sering lupa sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan menunda untuk periksa. Semakin cepat diketahui penyebabnya, semakin besar peluang untuk mengatasinya.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

Jogja-Urban-Enduro-2025-afa-1
Sports Tourism: Ketika Olahraga Jadi Mesin Ekonomi Baru
IMG_0527
China–Jepang Memanas: Insiden Radar J-15 dan Protes Diplomatik yang Makin Tajam
browser-safari_169
Apple Peringatkan Pengguna iPhone: Jangan Pakai Chrome Kalau Privasi Jadi Prioritas
WhatsApp-Image-2025-12-08-at-23.24.43
Gunung Semeru Kembali Erupsi: Kolom Abu 1.000 Meter, Lava Pijar Mengalir
pexels-tima-miroshnichenko-7991579
10 Film Paling Banyak Dicari 2025: “Pangku” Ikut Jadi Perbincangan Hangat Warganet

#ADVERTISE