Rial Iran Terjun Bebas, Nilainya Kini Kalah Jauh dari Rupiah Indonesia
Voks Radio Bandung — Teman Voks, kondisi ekonomi Iran saat ini tengah memasuki fase krisis yang kian mengkhawatirkan. Tekanan inflasi tinggi, menyusutnya cadangan devisa, serta runtuhnya kepercayaan publik terhadap mata uang domestik membuat perekonomian Negeri Para Mullah berada di bawah tekanan berat. Dampak paling nyata dari krisis ini terlihat pada nilai tukar rial Iran yang terus merosot tajam dan kehilangan daya beli secara drastis.
Bahkan, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, nilai rial Iran bukan hanya terpuruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga tertinggal jauh dari rupiah Indonesia. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa stabilitas ekonomi Iran sedang berada di titik rapuh.
Rial Iran Anjlok Ribuan Persen
Melansir data Refinitiv, pada akhir 2025 nilai tukar US$1 masih berada di kisaran 45.000 rial. Namun, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, situasinya berubah drastis. Pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, US$1 tercatat setara dengan sekitar 1,04 juta rial.
Artinya, dalam periode singkat tersebut, rial Iran melemah sekitar 2.388 persen terhadap dolar AS. Angka ini mencerminkan tekanan luar biasa yang sedang dialami perekonomian Iran, mulai dari inflasi yang terus melonjak, terbatasnya akses terhadap pasar global, hingga krisis kepercayaan masyarakat terhadap mata uang nasionalnya sendiri.
Pelemahan nilai tukar yang ekstrem seperti ini umumnya menjadi indikator bahwa stabilitas ekonomi sebuah negara berada dalam kondisi genting. Dalam kasus Iran, kondisi tersebut diperparah oleh faktor struktural dan tekanan domestik yang terus membesar.
Kalah dari Rupiah Indonesia
Tekanan terhadap rial Iran juga terlihat jelas saat dibandingkan dengan rupiah Indonesia. Pada penutupan akhir 2025, nilai tukar masih berada di kisaran Rp1 setara 45.215 rial. Namun, per 14 Januari 2026, angka tersebut melonjak menjadi sekitar 59.663 rial per rupiah.
Dengan kata lain, rial Iran melemah sekitar 31,95 persen terhadap rupiah hanya dalam hitungan bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rial tidak hanya terjadi terhadap mata uang utama dunia seperti dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah Indonesia.
Bagi Indonesia, situasi ini bukan berarti rupiah mengalami penguatan signifikan secara fundamental. Fenomena ini lebih mencerminkan betapa cepat dan dalamnya nilai mata uang Iran tergerus oleh krisis ekonomi di dalam negeri.
Bawa Rupiah ke Iran, Terlihat “Makin Kaya”
Secara nominal, kejatuhan nilai rial Iran memang terlihat menguntungkan bagi siapa pun yang memegang mata uang asing. Bagi warga Indonesia, membawa rupiah ke Iran saat ini tampak memberikan keuntungan instan.
Dengan kurs terkini di kisaran 59.663 rial per rupiah, menukarkan Rp1 juta dapat menghasilkan sekitar 59,6 miliar rial. Angka ini melonjak jauh dibandingkan akhir 2025, ketika Rp1 juta hanya setara sekitar 45,2 miliar rial. Dalam waktu singkat, terjadi selisih lebih dari 14,4 miliar rial.
Namun, Teman Voks perlu mencermati bahwa lonjakan nominal tersebut tidak mencerminkan meningkatnya daya beli. Justru sebaliknya, angka fantastis itu menjadi bukti runtuhnya nilai rial Iran. Uang yang diperoleh dalam jumlah sangat besar tersebut memiliki daya beli yang semakin lemah di dalam negeri, tergerus inflasi tinggi dan lonjakan harga kebutuhan pokok yang sulit dikendalikan.
Realita di Balik Angka Fantastis
Bagi wisatawan Indonesia, kondisi ini secara teori memang terlihat menggiurkan. Rupiah tampak sangat “kuat” secara nominal jika ditukarkan ke rial. Namun realitas di lapangan jauh lebih kompleks.
Situasi ekonomi Iran yang tengah bergejolak berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Harga barang kebutuhan pokok terus naik, pasokan barang kerap tidak stabil, dan ketidakpastian ekonomi menciptakan tekanan sosial yang besar.
Di luar aspek ekonomi, kondisi keamanan dan stabilitas domestik Iran juga menjadi faktor penting. Ketegangan sosial dan dinamika politik yang belum mereda membuat perjalanan ke Iran saat ini bukan hanya tidak ideal, tetapi juga berisiko bagi wisatawan asing.
Cermin Krisis yang Lebih Dalam
Anjloknya nilai rial Iran terhadap dolar AS maupun rupiah Indonesia sejatinya menjadi cerminan dari krisis ekonomi yang lebih dalam. Pelemahan mata uang bukan sekadar soal kurs, melainkan menyangkut kepercayaan publik, stabilitas kebijakan, serta kemampuan negara menjaga keseimbangan ekonomi dalam jangka panjang.
Bagi Teman Voks, fenomena ini bisa menjadi pengingat bahwa angka nilai tukar yang tampak “menguntungkan” secara nominal tidak selalu berarti kesejahteraan nyata. Di balik angka miliaran rial, tersimpan realitas pahit tentang daya beli yang runtuh dan ekonomi yang tengah berjuang keluar dari tekanan berat.