Psikolog: Ruang Aman dari Orang Terdekat Jadi Kunci Pemulihan Korban Kekerasan

Psikolog: Ruang Aman dari Orang Terdekat Jadi Kunci Pemulihan Korban Kekerasan

Halo Teman Voks,
Saat seseorang mengalami kekerasan, keberanian untuk berbicara atau mencari bantuan bukanlah hal yang mudah. Banyak korban memilih diam karena takut disalahkan, tidak dipercaya, atau kembali mengalami trauma. Di sinilah peran orang terdekat menjadi sangat krusial. Menurut psikolog klinis Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog, kehadiran orang terdekat bisa menjadi titik balik penting bagi korban untuk memulai proses pemulihan.

Dalam wawancaranya dengan ANTARA, Phoebe menegaskan bahwa langkah pertama yang paling sederhana namun paling vital adalah menghadirkan ruang aman bagi korban kekerasan. Ruang aman ini bukan tentang memberi saran berlebihan, melainkan tentang menerima, mendengarkan, dan menguatkan.

Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Menurut Phoebe, kemampuan orang terdekat untuk mendengarkan tanpa menghakimi adalah fondasi utama dalam menciptakan ruang aman. Banyak korban kekerasan ragu untuk bercerita karena khawatir akan dipersalahkan atau dianggap mengada-ada. Ketika seseorang hadir dan mau mendengarkan dengan tulus, korban dapat merasakan bahwa dirinya dihargai dan tidak sendirian.

“Orang terdekat memiliki peran strategis dengan menjadi figur yang dapat dipercaya dan tidak menghakimi. Mereka dapat menciptakan ruang aman dengan mendengarkan secara aktif, menjaga rahasia, dan menunjukkan empati tanpa memaksa korban bercerita,” ujar Phoebe.

Ia menambahkan bahwa keberanian korban sering kali tumbuh dari adanya satu orang saja yang bisa dipercaya. Satu orang yang tidak menyalahkan, tidak memaksa, dan tidak membuat korban merasa semakin terpojok.

Ruang Emosional yang Hangat

Teman Voks, ruang aman bukan sekadar tempat fisik. Lebih dari itu, ruang aman adalah suasana emosional yang membuat korban merasa diterima. Phoebe menjelaskan bahwa orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban perlu menghadirkan kehangatan emosional yang membuat korban merasa aman untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Hal ini sangat penting karena banyak korban kekerasan membawa luka yang tidak tampak. Luka yang muncul dalam bentuk rasa takut, malu, cemas, atau rasa bersalah yang tidak pada tempatnya. Dengan didampingi oleh orang terdekat yang penuh empati, mereka punya kesempatan untuk perlahan memulihkan diri.

Komunitas Anti-Kekerasan: Fondasi yang Lebih Besar

Lebih luas lagi, upaya menciptakan ruang aman tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga oleh komunitas. Phoebe menekankan pentingnya membangun lingkungan yang anti-kekerasan, yang menghargai perempuan dan anak, serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaannya tanpa takut dipermalukan.

Komunitas yang suportif dapat mencegah siklus kekerasan berulang, sekaligus menjadi tempat yang mendorong korban untuk mencari bantuan. Masyarakat yang peduli mampu menjadi sistem pendukung tambahan ketika korban tidak menemukan keamanan di lingkup keluarga atau teman dekat.

Keamanan di Ranah Digital

Di era digital, kekerasan tidak hanya terjadi secara fisik atau verbal. Kekerasan juga bisa hadir melalui pesan ancaman, doxing, cyberbullying, atau penyebaran konten pribadi. Itulah mengapa, menurut Phoebe, orang terdekat juga perlu membantu korban—terutama perempuan dan anak—dalam menjaga keamanan digitalnya.

“Di ranah digital, orang terdekat dapat membantu anak atau perempuan memahami cara menjaga keamanan online, seperti mengelola pertemanan digital, menjaga privasi, serta melaporkan akun atau pesan yang mengancam,” ujarnya.

Dengan bimbingan yang tepat, korban dapat terhindar dari tekanan tambahan yang datang dari dunia maya, yang sering kali sama menakutkannya dengan kekerasan di dunia nyata.

Konsistensi adalah Kunci

Salah satu pesan penting yang ditekankan Phoebe adalah konsistensi. Banyak korban kekerasan membutuhkan waktu lama untuk memutuskan bercerita atau mencari bantuan. Bahkan ketika mereka mulai membuka diri, proses pemulihan tidak selalu berjalan mulus. Karena itu, orang terdekat perlu hadir secara konsisten, tanpa terburu-buru, dan tanpa memberikan penilaian.

“Konsistensi dalam menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian adalah langkah awal yang sangat penting untuk memutus siklus kekerasan,” kata Phoebe.

Keberadaan seseorang yang selalu ada, kapan pun korban merasa siap, menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.

Mendampingi Ketika Korban Siap Melapor

Selain mendengarkan, orang terdekat juga dapat membantu korban untuk mengakses layanan profesional, seperti psikolog, pekerja sosial, hingga lembaga perlindungan. Bila korban memutuskan untuk melapor, pendampingan fisik dan emosional sangat dibutuhkan untuk menjaga rasa aman.

Phoebe menegaskan bahwa segala bentuk pendampingan harus dilakukan secara lembut dan menghargai keputusan korban. Pemaksaan justru bisa memperburuk kondisi mental korban.

Penutup: Peran Kecil yang Berdampak Besar

Teman Voks, dari penjelasan Phoebe, jelas bahwa peran orang terdekat sangat besar dalam membantu korban kekerasan pulih. Bukan dengan solusi instan, tetapi dengan kehadiran, empati, dan konsistensi. Kadang, satu telinga yang mau mendengar bisa lebih menyembuhkan dibanding seribu saran.

Jika Teman Voks ingin bahasan lanjutan seputar kesehatan mental atau isu sosial lainnya, tinggal bilang saja.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

013155500_1756275650-GzTM0pcWoAIQ6p0
Netflix Umumkan Sekuel KPop Demon Hunters, Petualangan Rumi, Mira, dan Zoey Berlanjut
image_750x_68c55f7a02325
Thom Haye Absen Bela Persib, Pulang ke Belanda Saat Masa Jeda Kompetisi
472216919
Pemkot Bandung Perkuat Pencegahan Korupsi, Wali Kota Farhan Koordinasi dengan KPK
69b269ae89bc6
Pemerintah Batasi Penggunaan AI Instan untuk Siswa SD hingga SMA
1772062783-6000x4000
37 Juta Ton Sampah per Tahun, Mahasiswa Ditantang Cari Solusi Lewat Kompetisi #GreenGeneration

#ADVERTISE