Penangkapan Presiden Venezuela Picu Kecaman Dunia, Sejumlah Negara Nilai Trump Langgar Hukum Internasional

Penangkapan Presiden Venezuela Picu Kecaman Dunia, Sejumlah Negara Nilai Trump Langgar Hukum Internasional

Teman Voks, ketegangan geopolitik kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores. Tindakan tersebut langsung menuai kecaman luas dari berbagai negara, yang menilai langkah Amerika Serikat sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.

Dalam unggahan di platform Truth Social pekan lalu, Trump menyebut Maduro dan Cilia Flores telah ditangkap dalam sebuah operasi yang disebut-sebut melibatkan kerja sama dengan penegak hukum Amerika Serikat. Menurut klaim Trump, keduanya kemudian diterbangkan keluar dari Venezuela.

Serangan AS Picu Kekhawatiran Warga Venezuela

Klaim penangkapan tersebut muncul bersamaan dengan serangan yang dilakukan Amerika Serikat di wilayah Venezuela pada Sabtu (3/1). Aksi ini disebut sebagai eskalasi dramatis yang sejak awal sudah memicu kekhawatiran di kalangan warga Venezuela.

Pemerintah Venezuela secara tegas menolak narasi Washington dan menyampaikan kecaman keras di hadapan komunitas internasional. Caracas menilai tindakan AS sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan negara dan intervensi yang tidak dapat dibenarkan.

Situasi ini dengan cepat menarik perhatian dunia internasional. Sejumlah negara, baik di kawasan Amerika Latin maupun di luar kawasan, menyuarakan penolakan terbuka terhadap langkah Trump.

China: Pelanggaran Nyata Hukum Internasional

China menjadi salah satu negara yang paling vokal mengecam tindakan Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri China menyebut penangkapan Presiden Venezuela sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

“Pelanggaran nyata terhadap hukum internasional,” kata Kementerian Luar Negeri China, dikutip AFP, Minggu (4/1).

Beijing mendesak Amerika Serikat untuk segera membebaskan Nicolas Maduro dan istrinya, serta menjamin keselamatan pribadi keduanya. China juga meminta Washington menghentikan upaya menjatuhkan pemerintahan Venezuela.

Korea Utara: AS Bertindak Seperti Negara Bandit

Korea Utara juga menyampaikan kecaman keras. Melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri yang dimuat kantor berita KNCA, Pyongyang menilai penangkapan Maduro sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela.

“Peristiwa ini sekali lagi dengan jelas menunjukkan sifat AS yang brutal dan bertindak seperti negara bandit,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, melansir AFP.

Penggerebekan dan penangkapan ini disebut sebagai skenario terburuk bagi negara-negara yang selama ini menuduh Washington kerap menggunakan cara-cara koersif untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak sejalan dengan kepentingannya.

Iran: Serangan Militer Tak Bisa Dibenarkan

Dari Timur Tengah, Iran turut bersuara. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyinggung soal tekanan dan klaim palsu dalam unggahan di media sosial X.

“Ketika seseorang menyadari musuh ingin memaksakan sesuatu pada pemerintah atau negaranya dengan klaim palsu, mereka harus berdiri teguh melawan musuh tersebut,” tulis Khamenei.

Ia menegaskan Iran tidak akan menyerah pada tekanan semacam itu. Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk keras serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela, yang dinilai melanggar kedaulatan nasional dan integritas wilayah negara tersebut.

Brasil: Melampaui Batas yang Tak Bisa Diterima

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva juga mengkritik keras tindakan Washington. Lula menyebut pemboman dan penangkapan Presiden Venezuela sebagai langkah yang telah melampaui batas yang tidak dapat diterima.

“Menyerang negara lain, yang terang-terangan melanggar hukum internasional, adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan,” tulis Lula melalui media sosial X.

Ia menambahkan, aksi Amerika Serikat tersebut mengingatkan pada momen-momen campur tangan terburuk dalam sejarah politik Amerika Latin. Menurutnya, situasi ini berpotensi mengancam perdamaian di kawasan.

Lula juga menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil sikap tegas atas peristiwa tersebut.

Deretan Negara Lain Ikut Mengecam

Selain China, Korea Utara, Iran, dan Brasil, kecaman terhadap Trump juga datang dari banyak negara lain. Mengutip laporan Al Jazeera, sejumlah negara yang menyatakan penolakan terhadap penangkapan Presiden Venezuela antara lain:

Kolombia, Bolivia, Trinidad dan Tobago, Ekuador, Uruguay, Chile, Panama, Meksiko, Prancis, Malaysia, hingga Indonesia.

Sikap kolektif ini menunjukkan kekhawatiran global terhadap meningkatnya praktik intervensi sepihak yang dinilai dapat merusak tatanan internasional dan prinsip multilateralisme.

Ketegangan Global Masih Berlanjut

Hingga kini, belum ada kejelasan lebih lanjut mengenai status Nicolas Maduro dan Cilia Flores, maupun respons lanjutan dari pemerintah Amerika Serikat terhadap kecaman internasional tersebut.

Yang jelas, Teman Voks, peristiwa ini menambah daftar panjang ketegangan global di awal tahun dan kembali memunculkan perdebatan soal batas kekuasaan negara besar dalam hubungan internasional. Dunia pun kini menunggu, apakah krisis ini akan mereda atau justru berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

rial-iran_169
Rial Iran Terjun Bebas, Nilainya Kini Kalah Jauh dari Rupiah Indonesia
1743033381_40444bd41d2ba74bd1f8
10 Lagu The Beatles Terbaik Sepanjang Masa, Lengkap dengan Cerita di Baliknya
01javta846j6k4yrz8frn663bx
Pemkot Bandung Urus Izin Pembongkaran Teras Cihampelas, UMKM Dipastikan Tetap Beraktivitas
Bandung Masuk Tiga Besar Destinasi Wisata dengan Pertumbuhan Tercepat di Asia 2025 Versi Agoda
trump-speaking
Trump ‘Klaim’ Dirinya Presiden Sementara Venezuela di Tengah Krisis Besar

#ADVERTISE