Mengenal ‘Super Flu’ yang Sedang Merebak, Benarkah Waktu Sembuhnya Lebih Lama?

Mengenal ‘Super Flu’ yang Sedang Merebak, Benarkah Waktu Sembuhnya Lebih Lama?

Teman Voks, belakangan istilah “Super Flu” ramai diperbincangkan di berbagai belahan dunia. Lonjakan kasus influenza di sejumlah negara membuat banyak orang waspada, terlebih setelah varian baru influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai subclade K dilaporkan sudah terdeteksi di Indonesia.

Situasi ini memunculkan satu pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah “Super Flu” benar-benar lebih berat dari flu biasa, dan berapa lama sebenarnya waktu pemulihannya?

Apa Itu ‘Super Flu’?

Flu sejatinya bukan penyakit baru. Namun strain influenza yang saat ini dominan, terutama dari keluarga H3N2 subclade K, dinilai memiliki kemampuan lebih kuat dalam menghindari kekebalan tubuh. Kekebalan tersebut bisa berasal dari vaksin flu sebelumnya maupun infeksi flu di masa lalu.

Menurut William Schaffner, profesor di Vanderbilt University School of Medicine, influenza memang dikenal sebagai penyakit yang bisa berdampak serius. Pada varian yang saat ini beredar, dampaknya disebut bisa terasa lebih panjang, bahkan setelah gejala utama mereda.

“Begitu influenza menyerang, efeknya bisa bertahan lebih lama dibandingkan fase sakit akutnya,” ujar Schaffner.

Gejala Bisa Hilang, Tapi Badan Belum Pulih

Teman Voks, flu umumnya menimbulkan gejala seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Pada banyak kasus, demam dan gejala berat memang mereda dalam beberapa hari.

Namun, pada varian influenza yang lebih agresif seperti subclade K, tidak sedikit pengidap yang masih merasakan kelelahan berkepanjangan, badan terasa lemas, dan sulit kembali bugar meski gejala utama sudah hilang.

Schaffner menyebut bahwa laporan mengenai durasi sakit yang lebih lama cukup sering ia dengar pada musim flu kali ini, meski masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti secara ilmiah.

Berapa Lama Waktu Pemulihan ‘Super Flu’?

Durasi pemulihan sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu. Faktor seperti usia, daya tahan tubuh, serta adanya penyakit penyerta sangat memengaruhi lamanya proses sembuh.

Amesh A. Adalja, peneliti senior di Johns Hopkins Center for Health Security, memberikan gambaran umum bahwa gejala akut seperti demam biasanya membaik dalam beberapa hari. Namun, rasa lelah dan tidak enak badan bisa bertahan hingga satu minggu atau bahkan lebih.

Salah satu penyebabnya adalah respons peradangan tubuh. Saat virus menyerang, sistem imun bekerja keras melawan infeksi. Meski virus mulai terkendali, peradangan ini bisa tetap berlangsung dan memicu batuk kering, tenggorokan terasa tidak nyaman, serta kelelahan yang menetap.

“Itu bisa berlangsung cukup lama,” kata Schaffner.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan menyerupai long influenza syndrome, yakni gejala sisa flu yang bertahan lebih lama, mirip dengan long COVID tetapi dipicu oleh influenza.

Faktor yang Memperlambat Pemulihan

Teman Voks, pemulihan yang terasa lama juga bisa diperburuk oleh dehidrasi dan kurangnya aktivitas fisik selama sakit. Ketika tubuh terlalu lama pasif dan asupan cairan kurang, proses pemulihan bisa menjadi lebih lambat.

Selain itu, flu juga berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama pneumonia, yang risikonya meningkat bila kondisi tubuh melemah atau dehidrasi.

Peran Vaksin Flu

Meski data awal menunjukkan vaksin flu tahun ini tidak sepenuhnya mencegah infeksi subclade K, para ahli menegaskan bahwa vaksinasi tetap penting. Vaksin dinilai dapat membantu mengurangi tingkat keparahan penyakit serta mempercepat pemulihan.

Dengan kata lain, meski masih bisa tertular, tubuh yang sudah divaksin biasanya tidak mengalami gejala seberat mereka yang tidak memiliki perlindungan sama sekali.

Cara Membantu Mempercepat Pemulihan

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu tubuh pulih lebih optimal. Salah satunya adalah berkonsultasi dengan tenaga medis terkait penggunaan obat antivirus. Jika diberikan di awal infeksi, antivirus dapat membantu menurunkan tingkat keparahan penyakit.

Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga sangat penting. Minum cukup cairan membantu mencegah dehidrasi, menjaga selaput lendir tetap lembap, serta memudahkan pengeluaran lendir dari saluran pernapasan.

Saat kondisi mulai membaik, olahraga ringan seperti berjalan santai dapat membantu mempercepat pemulihan, tentu dengan tetap mendengarkan sinyal tubuh. Istirahat yang cukup juga tidak boleh diabaikan.

Kapan Harus ke Dokter?

Teman Voks, waspadai tanda-tanda komplikasi. Jika demam tidak kunjung turun, muncul sesak napas, atau kelelahan ekstrem yang mengganggu aktivitas harian, segera temui tenaga medis.

Para ahli juga menyarankan untuk menghubungi dokter apabila lebih dari satu minggu setelah fase sakit akut kondisi tubuh tidak membaik atau justru terasa semakin buruk.

Mengenali batas tubuh dan tidak memaksakan diri adalah kunci agar pemulihan berjalan optimal di tengah merebaknya “Super Flu” yang sedang jadi perhatian dunia.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

shutterstock_434890240-1
UMR Kota Bandung 2026 Resmi Naik, Ini Rincian Lengkap UMK Jawa Barat Terbaru
tempImage3uQyUc
Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi di Istana, Dialog Khusus Sosial Humaniora Jadi Sorotan
sppg-polresta-pontianak-distribusikan-mbg-2658885
Pegawai Inti SPPG Diangkat Jadi PPPK, BGN Tegaskan Relawan Tak Termasuk
rial-iran_169
Rial Iran Terjun Bebas, Nilainya Kini Kalah Jauh dari Rupiah Indonesia
1743033381_40444bd41d2ba74bd1f8
10 Lagu The Beatles Terbaik Sepanjang Masa, Lengkap dengan Cerita di Baliknya

#ADVERTISE