Longsor Gunung Sampah di TPA Bantar Gebang Tewaskan Empat Orang, Jadi Sorotan Sistem Pengelolaan Sampah

Longsor Gunung Sampah di TPA Bantar Gebang Tewaskan Empat Orang, Jadi Sorotan Sistem Pengelolaan Sampah

Voks Radio Bandung – Teman Voks, tragedi longsor kembali terjadi di tempat pembuangan sampah. Kali ini, longsor gunungan sampah terjadi di TPA Bantar Gebang pada Minggu (8/3/2026) dan menyebabkan empat orang meninggal dunia setelah tertimbun material sampah.

Peristiwa tersebut terjadi ketika gunungan sampah dengan ketinggian sekitar 50 meter mengalami longsor dan menimbun sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan kejadian ini menjadi bukti bahwa sistem pengelolaan sampah, khususnya di Jakarta, masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.

Menurutnya, longsor di TPA Bantar Gebang mencerminkan adanya kegagalan sistemik dalam pengelolaan sampah, yang selama ini belum sepenuhnya mampu mengantisipasi risiko besar dari penumpukan sampah dalam jumlah masif.

Terjadi Dua Pekan Setelah Hari Peduli Sampah Nasional

Teman Voks, tragedi ini juga terasa ironis karena terjadi hanya dua minggu setelah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Hari tersebut diperingati untuk mengenang salah satu bencana pengelolaan sampah terbesar di Indonesia, yakni tragedi longsor di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005.

Peristiwa di Leuwigajah saat itu menewaskan ratusan orang dan menjadi salah satu tragedi tempat pembuangan sampah paling mematikan di dunia.

Kilas Balik Tragedi TPA Leuwigajah 2005

Sebelum tragedi itu terjadi, TPA Leuwigajah berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah utama bagi kawasan Bandung Raya. Sejak beroperasi pada era 1980-an, gundukan sampah di lokasi tersebut terus bertambah hingga mencapai ketinggian ratusan meter.

Dalam laporan penelitian yang berjudul Tragedi Leuwigajah oleh peneliti Jepang Itoch Tochija, disebutkan bahwa pada 21 Februari 2005 gunungan sampah di lokasi tersebut tiba-tiba meledak.

Ledakan tersebut memicu fenomena yang kemudian dikenal sebagai “tsunami sampah”, yakni gelombang longsoran sampah yang meluncur deras dan menimbun rumah warga di sekitarnya.

Akibat peristiwa tersebut, kawasan permukiman di sekitar TPA tertimbun material sampah dalam jumlah sangat besar.

Selama sekitar 15 hari proses evakuasi, tim penyelamat hanya berhasil menemukan 157 jasad korban. Sementara ratusan lainnya dinyatakan hilang dan diduga tertimbun di bawah tumpukan sampah.

Sebagian besar korban diketahui merupakan pemulung serta warga yang tinggal di sekitar lokasi TPA.

Salah Satu Bencana TPA Terbesar di Dunia

Tragedi TPA Leuwigajah kemudian tercatat sebagai salah satu bencana pengelolaan sampah terbesar di dunia.

Peristiwa ini bahkan sering dibandingkan dengan insiden serupa di TPA Payatas, Quezon City, Filipina, pada 10 Juli 2000 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Kedua kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa tempat pembuangan sampah dengan pengelolaan yang tidak memadai dapat menimbulkan risiko bencana besar.

Penyebab Longsor Gunungan Sampah

Setelah tragedi Leuwigajah terjadi, berbagai penelitian dilakukan untuk mengungkap penyebab longsor tersebut.

Tim ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut bahwa salah satu faktor utama adalah kondisi gunungan sampah yang sudah jauh melampaui kapasitas tampung.

Selain itu, sistem penimbunan sampah saat itu menggunakan lereng tunggal (single slope) dengan kemiringan lebih dari 45 derajat, yang membuat struktur gunungan sampah menjadi tidak stabil.

Material sampah juga tidak dipadatkan dengan baik sehingga mudah mengalami pergerakan.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi adalah keberadaan mata air di bawah bagian utara TPA, yang membuat lapisan tanah menjadi lebih rentan.

Curah hujan tinggi beberapa hari sebelum kejadian juga membuat struktur gunungan sampah semakin rapuh.

Tak hanya itu, tumpukan sampah juga menghasilkan gas metana, yang pada akhirnya memicu ledakan dan mempercepat terjadinya longsor besar.

Tanda Bahaya Sempat Muncul Sebelum Tragedi

Teman Voks, sejumlah tanda bahaya sebenarnya telah muncul sebelum tragedi Leuwigajah terjadi.

Warga di sekitar lokasi sempat melihat retakan tanah, longsor kecil, hingga mencium bau gas menyengat yang berasal dari dalam gunungan sampah.

Namun berbagai tanda peringatan tersebut tidak ditangani secara serius sehingga bencana besar tidak dapat dicegah.

Setelah tragedi itu terjadi, pemerintah akhirnya menutup TPA Leuwigajah dan mulai mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih aman.

Kini kawasan bekas TPA tersebut telah berubah menjadi area yang lebih hijau dan tidak lagi digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.

Pengingat Pentingnya Pengelolaan Sampah yang Aman

Sebagai bentuk pengingat atas tragedi tersebut, pemerintah kemudian menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Peringatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pemerintah daerah untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah.

Longsor di TPA Bantar Gebang yang terjadi baru-baru ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai kota di Indonesia.

Dengan pengelolaan yang lebih baik, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

a_69af659a17dcf
Kasus Kanker Ginjal Diprediksi Naik Dua Kali Lipat pada 2050, Peneliti Ingatkan Pentingnya Pencegahan
l9JYCaDPDm
Pemerintah Buka Opsi Ubah Postur APBN 2026 Imbas Lonjakan Harga Minyak Dunia
gunung-sampah-1172048512
Longsor Gunung Sampah di TPA Bantar Gebang Tewaskan Empat Orang, Jadi Sorotan Sistem Pengelolaan Sampah
cats-873786495
Panglima TNI Keluarkan Perintah Siaga 1 untuk Seluruh Jajaran
4611
Pemerintah Batasi Akses Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Mulai 28 Maret 2026

#ADVERTISE