Ketika Remaja Lebih Nyaman Curhat ke AI Dibanding Teman Sendiri

Ketika Remaja Lebih Nyaman Curhat ke AI Dibanding Teman Sendiri

    VOKS RADIO, BANDUNG – Teman Voks, Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak dan remaja. Memasuki awal tahun 2026 yang diwarnai pesatnya transformasi digital, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk kembali memperhatikan bagaimana penggunaan teknologi ini dapat memengaruhi tumbuh kembang generasi muda di tengah aktivitas digital yang semakin intens.

Saat ini, anak-anak dan remaja semakin akrab dengan chatbot berbasis AI yang mampu merespons percakapan layaknya teman sebaya. Kehadiran teknologi ini membuat AI terasa seperti “teman digital” yang siap mendengarkan keluh kesah dan memberikan saran kapan pun dibutuhkan.

Namun di balik kemudahan tersebut, para ahli mulai mengingatkan adanya potensi risiko yang perlu diwaspadai.

AI yang Terasa Seperti Teman Nyata

Chatbot AI dirancang untuk dapat berinteraksi secara personal dengan penggunanya. Fitur ini memungkinkan anak dan remaja untuk berbagi cerita, meminta saran, bahkan membicarakan masalah pribadi kepada AI.

Salah satu contohnya dialami oleh James Johnson-Byrne, remaja berusia 16 tahun di Philadelphia, Amerika Serikat. Ia pernah meminta saran kepada chatbot AI saat menghadapi konflik antara dua teman dekatnya. Meski saran yang diberikan sempat membantu meredakan situasi, ia kemudian menyadari bahwa AI tidak mampu memahami akar masalah yang lebih dalam.

Ia juga mengungkapkan bahwa chatbot tersebut cenderung selalu menyetujui pendapatnya dan merespons dengan cara yang terasa sangat mirip dengan teman sebaya. Bahkan, pada satu titik, ia mengaku sempat lupa bahwa dirinya sedang berbicara dengan mesin, bukan manusia.

Selalu Memahami, Tapi Tidak Selalu Tepat

Platform AI pendamping seperti Character.AI dan PolyBuzz memang dirancang agar terasa akrab bagi pengguna. Teknologi ini menawarkan interaksi yang bebas drama, tanpa konflik, dan minim risiko penolakan seperti dalam hubungan sosial di dunia nyata.

Beberapa layanan bahkan memungkinkan pengguna remaja untuk mengakses chatbot dengan batas usia tertentu. Misalnya, PolyBuzz dapat digunakan mulai usia 14 tahun, sementara Character.AI menetapkan batas minimal usia 13 tahun.

Daya tarik ini membuat banyak remaja merasa nyaman menjadikan AI sebagai tempat bercerita. Tidak seperti teman manusia, chatbot AI akan selalu bersabar, mendukung, dan memvalidasi hampir semua hal yang disampaikan pengguna.

Risiko dalam Perkembangan Sosial

Sebuah studi dari Common Sense Media menunjukkan bahwa 72 persen remaja berusia 13–17 tahun di Amerika Serikat telah menggunakan AI pendamping. Lebih dari separuh di antaranya mengaku menggunakan chatbot secara rutin untuk berinteraksi.

Bahkan, 31 persen responden menyatakan percakapan dengan AI terasa sama memuaskannya atau lebih memuaskan dibandingkan dengan percakapan bersama manusia. Sementara itu, 33 persen remaja mengaku pernah membicarakan isu serius dengan AI.

Michael Robb, kepala penelitian di organisasi tersebut, menyebut masa remaja sebagai periode sensitif dalam perkembangan sosial. Ketergantungan pada AI dikhawatirkan dapat menghambat kemampuan anak dalam memahami interaksi sosial yang sehat.

Menurutnya, anak-anak tidak dapat mempelajari bahasa tubuh, ekspresi emosi, atau dinamika konflik dari chatbot AI. Padahal, interaksi sosial di dunia nyata membutuhkan kemampuan memahami isyarat nonverbal dan perbedaan pendapat.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

rekomendasi-nasi-liwet_169
Bandung Hadirkan 14 Rekomendasi Tempat Buka Puasa Bersama Paling Nyaman
Bau Mulut
Tips Menjaga Nafas Tetap Segar Saat Berpuasa
ilustrasi-anak-main-gadget-1_169
Ketika Remaja Lebih Nyaman Curhat ke AI Dibanding Teman Sendiri
otx4nr4uyzs4hmn
Tetap Sehat Puasa di Musim Pancaroba Ramadan 2026
melihat-lagi-salat-tarawih-perdana-di-masjid-ikn-1771468456850_169
Tarawih Perdana Disiarkan Langsung dari Masjid Negara IKN

#ADVERTISE