Fenomena Jasa Tukar Uang Baru di Pinggir Jalan Marak Jelang Lebaran, BI Imbau Gunakan Layanan Resmi
Voks Radio Bandung – Teman Voks, menjelang Hari Raya Idul Fitri kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai pecahan baru biasanya meningkat cukup signifikan. Tradisi membagikan uang kepada keluarga, kerabat, hingga anak-anak saat Lebaran membuat banyak orang mulai mencari pecahan kecil sejak awal bulan Ramadhan.
Di berbagai daerah, termasuk di wilayah Jakarta Barat, fenomena jasa penukaran uang baru di pinggir jalan pun kembali bermunculan. Para penjual menawarkan berbagai pecahan uang dengan imbalan potongan tertentu dari nominal yang ditukarkan.
Praktik ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun menjelang Lebaran, penukaran uang secara informal seperti ini kerap menjadi pemandangan yang mudah ditemui di sejumlah titik keramaian.
Permintaan Uang Pecahan Dinilai Masih Tinggi
Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, mengatakan maraknya jasa penukaran uang di jalan mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap uang pecahan kecil.
Menurutnya, permintaan tersebut kerap kali melampaui kapasitas layanan penukaran resmi yang tersedia.
“Maraknya jasa penukaran uang baru di jalanan menjelang Lebaran mencerminkan tingginya permintaan uang pecahan kecil yang belum sepenuhnya terlayani oleh mekanisme resmi,” ujar Rizal.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuka peluang munculnya pasar penukaran uang secara informal yang menawarkan proses lebih cepat dan praktis bagi masyarakat.
Rizal juga menyebut bahwa setiap periode Ramadhan hingga Idul Fitri, Bank Indonesia biasanya menyiapkan likuiditas uang kartal sekitar Rp180 hingga Rp200 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun keterbatasan titik layanan, kuota penukaran, serta distribusi uang tunai membuat sebagian masyarakat memilih menggunakan jasa penukaran di luar jalur resmi.
Kepraktisan Jadi Alasan Warga Menukar di Jalan
Teman Voks, bagi sebagian masyarakat, faktor kepraktisan menjadi alasan utama memilih jasa penukaran uang di pinggir jalan.
Salah satu warga bernama Endra (38) mengaku lebih memilih menukar uang di jalan karena prosesnya lebih cepat dibandingkan harus antre di bank atau layanan resmi Bank Indonesia.
“Kalau saya pribadi lebih suka menukar di jalan karena lebih cepat. Kalau ke bank atau BI harus antre lama, kadang harus datang pagi-pagi, terus ada saja syaratnya,” kata Endra saat ditemui di kawasan Jalan Asemka.
Menurutnya, di lokasi penukaran jalanan ia bisa langsung memilih pecahan uang yang dibutuhkan tanpa prosedur yang rumit.
“Di sini langsung bisa lihat jumlah uang yang kita butuhkan dan ambil sesuai pecahan yang dimau,” ujarnya.
Selain itu, Endra juga khawatir tidak mendapatkan uang baru jika harus menunggu antrean penukaran di bank atau Bank Indonesia.
Ia mengaku pernah mencoba mendaftar antrean secara daring maupun datang langsung ke lokasi penukaran, namun tetap menghadapi keterbatasan kuota.
“Saya sudah coba antre di BI offline dan online, tapi dapat antrian sampai dua minggu dan belum tentu juga kebagian,” katanya.
Hal serupa juga disampaikan warga lain bernama Destria (35) yang mengaku tidak memiliki cukup waktu untuk antre di bank.
Menurutnya, proses penukaran di bank biasanya memakan waktu lama, apalagi saat permintaan uang baru meningkat menjelang Lebaran.
“Jujur saya tidak punya waktu buat ke bank. Kalau di bank mesti antre panjang, orang juga ramai banget. Di sini lebih cepat, tinggal datang langsung tukar,” ujarnya.
Bank Indonesia Ingatkan Risiko Penukaran di Jalan
Teman Voks, meski dianggap lebih praktis, Bank Indonesia mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap praktik penukaran uang di pinggir jalan.
Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan bahwa penukaran uang di luar layanan resmi memiliki sejumlah risiko.
Beberapa di antaranya adalah ketidakpastian keaslian uang, kemungkinan jumlah yang tidak akurat, hingga potensi penipuan.
“Penukaran uang Rupiah melalui mekanisme jual beli di luar layanan resmi Bank Indonesia dan perbankan memiliki risiko bagi masyarakat, di antaranya tidak terjamin keasliannya, sulit dipastikan akurasi jumlahnya, hingga rawan penipuan,” kata Ramdan.
Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk memanfaatkan layanan penukaran resmi yang disediakan oleh Bank Indonesia maupun perbankan.
BI Siapkan Program SERAMBI 2026
Untuk memenuhi kebutuhan uang tunai selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri, Bank Indonesia juga telah menyiapkan program khusus bernama Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026.
Program ini berlangsung dari 13 Februari hingga 15 Maret 2026 dan bertujuan memastikan ketersediaan uang layak edar bagi masyarakat.
Dalam program tersebut, Bank Indonesia menyiapkan uang tunai sebesar Rp185,6 triliun.
Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan perbankan, termasuk penarikan uang tunai oleh masyarakat melalui ATM maupun kantor cabang bank.
Dari total dana yang disiapkan, sekitar Rp177 triliun dialokasikan untuk kebutuhan perbankan.
Menurut Ramdan, jumlah uang tunai yang disiapkan tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.
Dengan adanya berbagai layanan penukaran resmi yang disediakan, masyarakat diharapkan dapat memperoleh uang pecahan baru secara aman tanpa harus menghadapi risiko penukaran di jalur informal.