Dokter AS Ungkap Makanan yang Perlu Dibatasi untuk Menekan Risiko Kanker Usus Besar
Teman Voks, kanker usus besar masih menjadi salah satu penyakit yang kerap terlambat terdeteksi, padahal faktor risikonya sangat dekat dengan keseharian kita, terutama pola makan. Sejumlah pakar kesehatan dunia kembali mengingatkan pentingnya memilih makanan dengan bijak demi menjaga kesehatan saluran cerna.
Dokter spesialis gastroenterologi dari Stanford University dan University of California, Los Angeles, Wendi LeBrett, merekomendasikan agar masyarakat mulai membatasi konsumsi makanan tertentu untuk mengurangi risiko kanker usus besar.
Makanan Ultra Olahan Jadi Sorotan
Dikutip dari Hindustan Times, LeBrett menegaskan bahwa makanan ultra olahan atau ultra-processed food (UPF) memiliki kaitan kuat dengan masalah kesehatan usus. Ia menyebut, berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara konsumsi makanan ultra olahan dengan munculnya polip di usus besar.
Polip ini bukan sekadar gangguan ringan. Dalam banyak kasus, polip dapat berkembang menjadi kanker usus besar jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
“Makanan ultra olahan sering kali mengandung bahan tambahan, gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi, namun rendah serat dan nutrisi penting bagi kesehatan usus,” jelas LeBrett dalam laporan tersebut.
Daftar Makanan yang Sebaiknya Dibatasi
Makanan ultra olahan yang dimaksud bukan hanya makanan cepat saji, tetapi juga berbagai produk yang kerap dikonsumsi sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah:
-
Kue kering kemasan
-
Permen dan cokelat batangan
-
Sereal manis
-
Es krim
-
Keripik dan camilan krispi
-
Mi instan
-
Roti putih kemasan
-
Wafel
-
Nugget ayam
-
Hot dog dan daging olahan dengan bahan tambahan
-
Soda dan minuman energi
-
Protein bar dan granola bar
-
Keju olahan
Produk-produk tersebut umumnya mengalami proses industri panjang yang menghilangkan kandungan alami makanan dan menggantinya dengan zat aditif.
Risiko Lebih Tinggi pada Usia Muda
Teman Voks, temuan ini semakin mengkhawatirkan karena risiko kanker usus besar kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Studi dari Harvard menunjukkan bahwa perempuan muda berusia di bawah 50 tahun yang mengonsumsi makanan ultra olahan dalam jumlah tinggi memiliki risiko 45 persen lebih besar terkena polip usus.
Polip tersebut, dalam jangka panjang, berpotensi berkembang menjadi kanker kolorektal jika tidak ditangani secara medis.
Penelitian ini dilakukan oleh Andrew T Chan dari Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School, bersama timnya. Hasil riset tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah JAMA Oncology.
Pentingnya Perubahan Pola Makan
Para peneliti menekankan bahwa pola makan modern yang serba instan berkontribusi besar terhadap meningkatnya gangguan pencernaan. Kurangnya asupan serat, ditambah konsumsi gula dan lemak berlebih, membuat lingkungan usus menjadi tidak sehat.
LeBrett menganjurkan masyarakat untuk kembali mengutamakan makanan segar, seperti sayur, buah, biji-bijian utuh, serta sumber protein alami. Selain itu, membatasi makanan kemasan dan minuman manis dinilai sebagai langkah sederhana namun berdampak besar bagi kesehatan jangka panjang.
Langkah Pencegahan Sejak Dini
Teman Voks, menjaga kesehatan usus besar bukan hanya soal menghindari penyakit, tetapi juga investasi kualitas hidup di masa depan. Membiasakan pola makan sehat sejak usia muda dapat menurunkan risiko kanker, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh secara keseluruhan.
Perubahan kecil, seperti mengurangi camilan kemasan dan memilih makanan rumahan yang lebih alami, bisa menjadi langkah awal yang berarti. Karena pada akhirnya, kesehatan usus adalah fondasi dari kesehatan tubuh secara menyeluruh.