Di Balik Gemerlap Tahun Baru, Ini Dampak Kembang Api bagi Lingkungan

Di Balik Gemerlap Tahun Baru, Ini Dampak Kembang Api bagi Lingkungan

Bandung – Teman Voks, kembang api hampir selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan besar, terutama saat menyambut pergantian tahun. Dentuman suara dan cahaya warna-warni di langit kerap dianggap sebagai simbol kegembiraan dan kemeriahan.

Namun, di balik keindahannya yang hanya berlangsung beberapa menit, kembang api menyimpan dampak serius bagi lingkungan. Efeknya bahkan bisa bertahan jauh lebih lama dibanding durasi pertunjukannya.

Cara Kerja Kembang Api

Mengutip Meersens dan Earth.org, kembang api termasuk alat piroteknik yang memadukan bahan peledak dan zat pijar untuk menghasilkan cahaya, suara, dan asap.

Bahan utama kembang api adalah bubuk hitam atau mesiu yang terdiri dari batu bara (15 persen), belerang (10 persen), dan kalium nitrat atau sendawa (75 persen). Untuk memperkuat reaksi kimia, ditambahkan zat pengoksidasi seperti kalium perklorat sekitar 10–15 persen.

Agar tampil menarik, berbagai mineral dicampurkan untuk menghasilkan warna tertentu. Warna merah berasal dari stronsium, kuning dari natrium, dan hijau dari barium. Untuk warna lain, digunakan kombinasi mineral, misalnya ungu dari stronsium dan tembaga, serta oranye dari stronsium dan natrium.

Selain itu, bahan seperti aluminium, karbon, dan mangan juga ditambahkan untuk menstabilkan ledakan dan memperkuat efek visual.

Dampak Buruk Kembang Api bagi Lingkungan

1. Mencemari Udara

Saat kembang api meledak, bahan kimia di dalamnya tidak langsung hilang. Zat-zat tersebut terbakar di udara dan berubah menjadi polusi berbahaya.

Ledakan kembang api melepaskan partikel halus PM2.5 dan PM10 yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat partikel ini berkontribusi terhadap penyakit serius seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan penyakit paru obstruktif kronis (COPD).

Selain partikel halus, kembang api juga melepaskan gas beracun seperti karbon monoksida dan nitrogen monoksida. Dampaknya bisa memengaruhi suhu udara, jarak pandang, hingga meningkatkan panas yang terperangkap di atmosfer.

Contoh nyata terlihat saat perayaan Diwali di India, ketika penggunaan kembang api dalam jumlah besar memicu kabut asap beracun yang menyelimuti kota.

2. Mencemari Ekosistem

Sisa ledakan kembang api meninggalkan residu kimia, termasuk perklorat, yang dapat mencemari tanah dan air. Zat ini bersifat persisten, mudah diserap tanaman, dan berbahaya bagi makhluk air seperti ikan.

Studi US Geological Survey (USGS) dan National Park Service di kawasan Mount Rushmore, Amerika Serikat, menemukan kadar perklorat tinggi di tanah dan perairan sekitar lokasi pesta kembang api.

Tak hanya itu, kembang api juga berkontribusi pada pencemaran mikroplastik di perairan, pembentukan hujan asam akibat nitrogen oksida dan sulfur dioksida, serta perubahan kesuburan tanah dan meningkatnya keasaman air. Gas sulfur dioksida bahkan dapat merusak daun dan menghambat pertumbuhan tanaman.

3. Risiko Kebakaran

Kembang api juga berisiko memicu kebakaran, terutama di daerah kering atau rawan kebakaran hutan. Percikan api kecil saja bisa memicu kebakaran besar yang menghancurkan habitat satwa.

Salah satu contoh terjadi di Utah, Amerika Serikat, pada 4 Juli 2021. Pesta kembang api menyebabkan kebakaran hebat hingga ratusan keluarga harus dievakuasi. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim yang membuat cuaca semakin panas dan kering.

4. Membahayakan Hewan

Menurut Humane Society of the United States, suara keras kembang api dapat menyebabkan stres dan ketakutan pada hewan. Banyak hewan yang tersesat, meninggalkan tempat tinggalnya, bahkan mengalami kecelakaan akibat kepanikan.

Beberapa penelitian menunjukkan angsa migran dapat terbang jauh meninggalkan tempat istirahatnya saat malam tahun baru dan tidak kembali. Ribuan burung juga tercatat terbang panik hingga ketinggian 500 meter akibat suara ledakan kembang api.

Pendengaran hewan yang lebih sensitif membuat mereka rentan mengalami gangguan perilaku, termasuk saat berkembang biak dan mencari makan. Pada Tahun Baru 2021 di Roma, ratusan burung ditemukan mati, dan Organisasi Internasional Perlindungan Hewan (OIPA) meyakini hal tersebut disebabkan oleh suara petasan.

Selain suara, sisa selongsong kembang api dan logam berat juga berisiko tertelan hewan saat mencari makan, yang dapat menyebabkan keracunan.

Perayaan yang Lebih Bijak

Teman Voks, kembang api memang menghadirkan momen indah dan meriah. Namun, memahami dampaknya bisa menjadi langkah awal untuk merayakan dengan lebih bijak dan ramah lingkungan.

Merayakan tahun baru tak selalu harus dengan ledakan dan asap. Ada banyak cara lain untuk menciptakan kebahagiaan tanpa meninggalkan jejak panjang bagi bumi dan makhluk hidup di dalamnya.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

sppg-polresta-pontianak-distribusikan-mbg-2658885
Pegawai Inti SPPG Diangkat Jadi PPPK, BGN Tegaskan Relawan Tak Termasuk
rial-iran_169
Rial Iran Terjun Bebas, Nilainya Kini Kalah Jauh dari Rupiah Indonesia
1743033381_40444bd41d2ba74bd1f8
10 Lagu The Beatles Terbaik Sepanjang Masa, Lengkap dengan Cerita di Baliknya
01javta846j6k4yrz8frn663bx
Pemkot Bandung Urus Izin Pembongkaran Teras Cihampelas, UMKM Dipastikan Tetap Beraktivitas
Bandung Masuk Tiga Besar Destinasi Wisata dengan Pertumbuhan Tercepat di Asia 2025 Versi Agoda

#ADVERTISE