Batuk Lebih dari Dua Pekan Saat Liburan? Ahli Ingatkan Waspada Gejala TB
Bandung – Masa liburan Natal dan Tahun Baru identik dengan aktivitas padat, perjalanan, dan keramaian. Namun di tengah euforia liburan, masyarakat diingatkan untuk tidak mengabaikan keluhan kesehatan, terutama batuk yang berlangsung selama dua pekan atau lebih.
Peringatan ini disampaikan oleh ahli kesehatan sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara periode 2018–2020, Prof. Tjandra Yoga Aditama. Ia menegaskan bahwa batuk berkepanjangan bukan keluhan sepele, terlebih jika terjadi di tengah mobilitas tinggi masyarakat saat libur akhir tahun.
“Kalau ada keluhan batuk berkepanjangan, maka gunakan masker saat berada di tempat umum, khususnya di masa liburan yang penuh orang, dan kalau memang batuk selama dua atau tiga minggu lebih, maka segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan,” ujar Tjandra saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Batuk Berkepanjangan Bisa Jadi Tanda TB
Menurut Prof. Tjandra, batuk yang berlangsung dua pekan atau lebih dan tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat batuk biasa dapat menjadi salah satu gejala tuberkulosis (TB). Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan membutuhkan kewaspadaan bersama.
Ia menjelaskan, batuk akibat TB umumnya disertai dengan dahak kental berwarna kuning atau hijau. Pada beberapa kasus, dahak juga bisa bercampur darah. Selain itu, penderita TB sering mengalami gejala tambahan seperti penurunan berat badan tanpa sebab jelas, keringat malam berlebihan, serta rasa lelah berkepanjangan.
Teman Voks, kondisi inilah yang kerap membuat TB sulit terdeteksi sejak awal. Banyak orang mengira batuk hanya disebabkan kelelahan, perubahan cuaca, atau infeksi ringan, sehingga pemeriksaan ke fasilitas kesehatan sering tertunda.
Deteksi Dini Penting Cegah Penularan
Prof. Tjandra menekankan bahwa pemeriksaan dini sangat penting, tidak hanya untuk kesembuhan pasien, tetapi juga untuk mencegah penularan TB ke orang lain. TB merupakan penyakit menular yang dapat menyebar melalui udara, terutama di tempat ramai dan tertutup.
Dengan pemeriksaan sejak awal, pasien bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat. Hal ini juga membantu memutus rantai penularan, terutama di momen liburan ketika interaksi antarmasyarakat meningkat drastis.
“Pemeriksaan dini gejala TB, termasuk batuk, memungkinkan pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan mampu mencegah penyebaran penyakit tersebut,” jelasnya.
Pasien TB Wajib Disiplin Minum Obat
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan seseorang positif TB, Prof. Tjandra mengingatkan pentingnya disiplin mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pengobatan TB membutuhkan waktu panjang dan harus dilakukan secara teratur.
Ia menegaskan, menghentikan obat di tengah jalan dapat menyebabkan kuman TB menjadi kebal obat, sehingga pengobatan justru menjadi lebih sulit.
“Untuk pasien TB, ingatlah untuk selalu makan obat setiap hari dengan teratur, walaupun di tengah masa liburan, seperti sekarang,” tutur Tjandra.
Pesan ini menjadi pengingat penting bagi Teman Voks yang mungkin sedang bepergian atau beraktivitas di luar kota, agar tetap memprioritaskan kesehatan.
Layanan Kesehatan Disiagakan Selama Libur Akhir Tahun
Sementara itu, pada masa libur Natal dan Tahun Baru, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiagakan layanan kesehatan bagi masyarakat. Sebanyak 44 puskesmas dan 31 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) tetap beroperasi untuk melayani warga yang membutuhkan pertolongan medis.
Tak hanya itu, Dinas Kesehatan DKI juga membuka posko layanan kesehatan di berbagai titik strategis, seperti stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, hingga tempat wisata yang ramai dikunjungi masyarakat selama liburan.
Skrining Kesehatan Gratis di Posko Layanan
Posko kesehatan tersebut menyediakan layanan pemeriksaan yang merupakan bagian dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) paket cepat. Layanan ini ditujukan bagi penumpang dan masyarakat umum yang ingin memastikan kondisi kesehatannya.
Jenis pemeriksaan yang tersedia meliputi skrining mandiri kesehatan jiwa, tuberkulosis, aktivitas merokok, serta aktivitas fisik. Selain itu, tersedia pula skrining status gizi seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut.
Pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu, konseling edukasi kesehatan, serta anamnesa penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan kanker paru juga dapat diakses di posko tersebut.
Teman Voks, liburan seharusnya menjadi momen menyenangkan. Namun, menjaga kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Jika mengalami batuk berkepanjangan atau keluhan lain yang tidak kunjung membaik, jangan ragu untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia. Deteksi dini bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita.