AstraZeneca Ungkap Terobosan Terbaru Pengobatan Kanker Paru, Gastrointestinal, dan Payudara di Asia
Teman Voks, perkembangan dunia kesehatan kembali menghadirkan kabar penting dari kawasan Asia. Kali ini datang dari sektor biofarmasi, yang menyoroti arah baru pengobatan kanker—penyakit yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di wilayah ini.
Perusahaan biofarmasi global AstraZeneca membeberkan tiga perkembangan utama dalam penanganan kanker, dengan fokus pada kanker paru, kanker gastrointestinal, dan kanker payudara. Ketiganya merupakan jenis kanker yang paling banyak terjadi di Asia, dengan karakteristik pasien yang berbeda dibandingkan kawasan Barat.
Kanker Paru Masih Jadi Beban Besar di Asia
Dalam forum ilmiah ESMO Asia 2025 yang digelar di Singapura, AstraZeneca menegaskan bahwa kanker paru tetap menjadi tantangan kesehatan utama di Asia. Salah satu alasannya adalah tingginya prevalensi mutasi epidermal growth factor receptor (EGFR) pada pasien non-small cell lung cancer (NSCLC) di Asia, yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan populasi Barat.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Eskomay, menyampaikan bahwa pendekatan berbasis bukti klinis menjadi kunci dalam menjawab tantangan ini.
“Kami bekerja sama dengan tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan komunitas pasien untuk menerjemahkan bukti klinis menjadi akses yang lebih merata, sehingga pasien bisa mendapatkan terapi yang tepat pada waktu yang tepat,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.
Data dari sejumlah studi menunjukkan, pada tahap neoadjuvan, penggunaan EGFR-TKI—baik sebagai monoterapi maupun dikombinasikan dengan kemoterapi—terbukti mampu meningkatkan respons patologis tanpa mengorbankan kualitas hidup pasien. Sementara pada pasien stadium III yang tidak dapat dioperasi, EGFR-TKI dalam rangkaian peri-kemoradiasi menunjukkan tingkat respons tinggi dengan profil keamanan yang masih dapat ditoleransi.
Menariknya, pada pasien yang mengalami progresi penyakit akibat amplifikasi atau overekspresi MET—kondisi yang lebih sering ditemukan pada populasi Asia—penambahan inhibitor MET ke dalam terapi EGFR-TKI menghasilkan respons yang lebih signifikan dan tahan lama.
Kanker Gastrointestinal: Tantangan Besar, Harapan Baru
Lebih dari separuh kasus kanker gastrointestinal dunia ditemukan di Asia. Ini mencakup kanker lambung, gastroesophageal junction, hingga kanker hati, yang banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, serta tingginya prevalensi hepatitis B di sejumlah negara Asia.
Studi yang dipaparkan AstraZeneca menunjukkan bahwa pemberian imunoterapi sejak tahap awal dan secara berkesinambungan mampu meningkatkan peluang kelangsungan hidup pada kelompok pasien tertentu. Pada kanker lambung dan kanker gastroesophageal junction, kombinasi imunoterapi dan kemoterapi terbukti meningkatkan overall survival dan event-free survival, baik pada stadium awal maupun stadium lanjut lokal.
Hasil positif ini juga terlihat pada pasien Asia yang umumnya memiliki kondisi penyakit lebih kompleks. Bahkan pada kanker hati stadium lanjut, regimen kombinasi imunoterapi dilaporkan mampu memberikan manfaat kelangsungan hidup hingga lima tahun, sebuah capaian yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Kanker Payudara dan Kompleksitas Pasien Asia
Teman Voks, karakter kanker payudara di Asia juga memiliki keunikan tersendiri. Di banyak negara Asia, kanker payudara kerap terdiagnosis pada usia 40–50 tahun, jauh lebih muda dibandingkan negara Barat yang umumnya terjadi pada usia 60–70 tahun. Kondisi ini membuat profil penyakit pasien Asia menjadi lebih kompleks, baik dari sisi biologis maupun sosial.
Pada pasien kanker payudara metastatik triple-negative yang tidak memenuhi syarat untuk imunoterapi, penggunaan antibody-drug conjugate (ADC) terbukti meningkatkan harapan hidup sekaligus mengendalikan progresi penyakit dengan efek samping yang masih dapat ditoleransi.
Sementara pada kanker payudara metastatik HER2-positif, kombinasi ADC dengan terapi target antibodi monoklonal menunjukkan manfaat besar dalam memperlambat progresi penyakit, termasuk pada pasien Asia. Bahkan untuk kanker payudara HER2-positif stadium awal berisiko tinggi, penggunaan ADC praoperatif sebelum terapi standar mampu meningkatkan angka pathologic complete response, tanpa menghambat kemungkinan tindakan pembedahan.
Menuju Akses yang Lebih Merata
Berbagai temuan ini menegaskan satu hal penting: pengobatan kanker di Asia membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik, adaptif, dan berbasis karakteristik populasi. Bukan hanya soal teknologi medis, tetapi juga soal akses, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Bagi Teman Voks, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa inovasi kesehatan terus bergerak. Harapannya, dengan riset yang relevan dan akses yang semakin merata, kanker tidak lagi selalu identik dengan vonis menakutkan, melainkan penyakit yang bisa dikelola dengan kualitas hidup yang lebih baik.