AS dan Israel Diklaim Sepakat Serang Iran, Analis Ingatkan Risiko Konflik Besar di Timur Tengah
Bandung — Teman Voks, Amerika Serikat dan Israel diklaim telah mencapai kesepakatan untuk melakukan serangan yang cepat dan tegas terhadap Iran. Klaim tersebut disampaikan oleh media Israel, Channel 14, yang menyebut kesepakatan itu muncul dari pembahasan tingkat tinggi antara pejabat kedua negara.
Dalam laporan tersebut disebutkan, pejabat Amerika Serikat menegaskan kesiapan penuh menghadapi Iran. Meski diakui membutuhkan waktu dan persiapan matang, Washington disebut selalu siap mengambil langkah konkret jika diperlukan.
Pertemuan Militer AS–Israel Bahas Iran
Melansir Middle East Monitor, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Jenderal Brad Cooper diketahui menggelar pertemuan dengan pejabat militer Israel di Tel Aviv pada Minggu (25/1). Pertemuan itu membahas sejumlah isu strategis, termasuk perkembangan situasi di Iran.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump diklaim menerima laporan intelijen yang menilai posisi pemerintah Iran tengah melemah. Laporan tersebut menyebut kekuasaan pemerintah Iran berada di titik terlemah sejak rezim Shah digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
“Presiden Trump secara rutin menerima briefing mengenai intelijen di seluruh dunia,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, seperti dikutip New York Times.
“Terkait Iran, Presiden Trump terus memantau situasi dengan cermat,” tambahnya.
Dampak Jika AS-Israel Menyerang Iran
Isu potensi serangan militer ini memunculkan kekhawatiran luas di kalangan analis geopolitik. Andreas Krieg, profesor madya di King’s College London sekaligus Direktur MENA Analytica, menilai perang terhadap Iran akan menjadi titik balik besar, bukan hanya bagi konflik regional, tetapi juga bagi tatanan internasional.
“Perang terhadap Iran akan membentuk kembali kawasan mayoritas Muslim-Arab secara fundamental,” kata Krieg kepada TRT World.
Menurutnya, konflik tersebut berpotensi memperkuat kelompok-kelompok garis keras di kawasan dan merusak upaya perdamaian yang mulai terjalin antara negara-negara Teluk dengan Iran.
Sekutu Iran Bisa Kembali Aktif
Jika AS melakukan intervensi militer, sejumlah sekutu regional Iran yang selama ini melemah dalam poros perlawanan diperkirakan akan kembali diaktifkan. Kelompok tersebut antara lain Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta Kata’ib Hizbullah di Irak.
Di sisi lain, meski tekanan ekonomi dan gelombang demonstrasi melemahkan kondisi internal Iran, sebagian masyarakat justru disebut siap menghadapi perang.
“Sebagian penduduk Iran memiliki pandangan radikal dan siap berperang,” ujar analis politik Rusia Sergei Markov, mantan penasihat Presiden Vladimir Putin.
Risiko Perang Berkepanjangan
Sejumlah analis memperingatkan bahwa opsi militer justru bisa memicu konflik berkepanjangan. Matthew Bryza, mantan diplomat AS dan pejabat senior di pemerintahan Presiden George W. Bush, menyebut serangan AS-Israel berisiko memicu ketegangan besar tanpa jaminan perubahan politik di Teheran.
“Jika rezim ulama saat ini tetap berkuasa di Teheran, kita akan melihat ketegangan yang sangat besar,” ujarnya.
Bryza menambahkan, Iran bisa mengambil langkah ekstrem sebagai respons, termasuk memblokir Selat Hormuz yang strategis atau melancarkan serangan hibrida terhadap target AS dan Israel di Timur Tengah.
Teman Voks, situasi ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran bukan hanya berpotensi mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga berdampak luas terhadap stabilitas global. Dunia kini menanti, apakah jalur diplomasi masih akan dipilih, atau justru konflik terbuka yang terjadi.