Seruan Humanis MUI: Demo Itu Hak, Jangan Sampai Ada Korban Lagi
Mengingatkan Polisi, Mengingatkan Massa
Teman Voks, suasana demo di Jakarta beberapa hari terakhir ini masih menyisakan cerita yang berat. Tragedi meninggalnya driver ojek online, Affan Kurniawan, jadi catatan kelam yang bikin banyak pihak angkat suara. Salah satunya datang dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Anwar Abbas, yang menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam penanganan aksi massa.
Menurut Buya Anwar, polisi perlu menahan diri dan tidak bertindak berlebihan. Karena bagaimanapun juga, unjuk rasa adalah hak masyarakat yang dijamin Undang-Undang. Jadi, kalau hak ini dilanggar dengan kekerasan, sudah pasti mencederai demokrasi yang selama ini kita jaga bersama. “Kepada pihak keamanan, kita mengimbau agar tidak melakukan hal-hal yang berlebihan, sehingga menimbulkan korban seperti yang terjadi sebelumnya,” ucapnya di Jakarta.
Baca Juga Tentang: Kasus Rantis Brimob Tabrak Ojol, Propam Pastikan Transparansi Jadi Kunci
Demo Itu Hak, Bukan Ancaman
Kalau dipikir-pikir, benar juga. Aksi unjuk rasa bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru itu bagian dari suara rakyat yang ingin didengar. Makanya, Buya Anwar mengingatkan aparat keamanan agar menghormati hak tersebut. “Ingat bahwa melakukan unjuk rasa itu dijamin oleh UU. Oleh karena itu, semua pihak harus menghormatinya, lebih-lebih lagi para aparat keamanan,” tegasnya.
Teman Voks, ini jadi pengingat penting. Polisi, sebagai pengayom, punya tugas memastikan situasi aman, bukan malah menimbulkan rasa takut. Dalam konteks demo, pendekatan humanis bisa jadi kunci untuk mencegah gesekan yang tidak perlu.
Imbauan untuk Massa Aksi
Tapi tentu saja, pesan MUI tidak hanya ditujukan untuk aparat. Para demonstran juga diingatkan untuk menjaga ketertiban. Buya Anwar menekankan, demo boleh saja, tapi harus damai. Jangan sampai aksi yang seharusnya jadi penyampaian aspirasi berubah jadi kerusuhan atau malah merusak fasilitas umum.
“MUI mengimbau agar yang akan berunjuk rasa tidak melakukan hal-hal yang mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Silakan melakukan unjuk rasa dengan tertib dan tidak merusak atau anarkis,” ujarnya.
Pesan ini sederhana, tapi mengena. Karena sering kali, aksi yang niatnya baik jadi kehilangan makna ketika berujung ricuh. Dan yang rugi bukan cuma peserta aksi, tapi juga masyarakat luas.
Duka untuk Affan Kurniawan
Sementara itu, Ketua Umum MUI, KH Anwar Iskandar, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan. Driver ojek online itu menjadi korban saat demo besar di depan Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta.
“Innalillahi wainnailaihirojiun, semoga almarhum Affan mendapatkan magfirah Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan karunia ikhlas dan kesabaran,” ucap Kiai Anwar.
Ucapan duka ini bukan hanya formalitas. Kepergian Affan meninggalkan luka mendalam bagi banyak orang, terutama sesama pengemudi ojek online yang turun ke jalan bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi juga untuk menyuarakan keadilan.
Desakan Proses Hukum Tegas
Kiai Anwar juga menegaskan agar para pelaku penabrakan dan tindak kekerasan yang menyebabkan korban jiwa dihukum seberat-beratnya. Ini penting untuk menunjukkan bahwa hukum berdiri di atas semua pihak, termasuk aparat keamanan sekalipun. “Kami meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai proses hukum oleh aparat hukum,” katanya.
Pesan ini menjadi tekanan moral agar kasus Affan tidak berakhir tanpa kejelasan. Transparansi dan keadilan jadi hal yang ditunggu publik, karena terlalu sering kasus serupa menguap begitu saja.
Voks Take: Menatap ke Depan
Teman Voks, apa yang disampaikan MUI kali ini sebenarnya jadi pengingat penting buat kita semua. Demo itu bukan sekadar kerumunan orang yang marah, tapi bagian dari demokrasi yang harus dijaga. Polisi perlu lebih humanis, massa perlu lebih tertib. Dua hal ini kalau berjalan beriringan, tragedi seperti yang menimpa Affan bisa dicegah.
Di balik semua itu, ada harapan besar bahwa setiap aksi massa bisa benar-benar jadi ruang menyampaikan aspirasi, bukan jadi ajang pertumpahan darah. Karena pada akhirnya, demokrasi kita tidak boleh ditebus dengan nyawa rakyat.
Momen ini semoga bisa membuka mata banyak pihak. Aparat bisa refleksi, massa aksi juga bisa introspeksi. Supaya ke depan, suara rakyat bisa tersampaikan dengan damai, tanpa meninggalkan luka.
Dan buat kita yang mengikuti dari jauh, mari sama-sama jaga semangat kritis, tapi juga tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Karena bagaimanapun juga, bangsa ini butuh ruang diskusi yang sehat, bukan hanya teriakan di jalan.
Source : Antara News