Gencatan Senjata Iran-AS Picu Kemarahan Oposisi Israel, Netanyahu Disorot Keras
Teman Voks, kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat justru memicu gelombang kritik keras dari dalam negeri Israel. Para pemimpin oposisi menilai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal mencapai tujuan strategis dalam konflik yang berlangsung lebih dari sebulan tersebut.
Kesepakatan penghentian sementara pertempuran selama dua pekan diumumkan pada Selasa (7/4/2026), sebagai langkah awal menuju perundingan damai yang lebih luas.
Oposisi Israel Murka
Reaksi keras datang dari tokoh oposisi seperti Yair Lapid yang menyebut situasi ini sebagai “bencana politik”.
Menurutnya, Netanyahu tidak hanya gagal secara militer, tetapi juga secara strategis dan politik.
“Tidak satu pun tujuan yang tercapai,” kritik Lapid.
Senada dengan itu, Yair Golan juga menyebut konflik ini sebagai salah satu kegagalan strategis terbesar dalam sejarah Israel. Ia menilai program nuklir Iran tidak berhasil dihentikan, sementara ancaman rudal masih tetap ada.
Target Awal Tak Tercapai
Di awal konflik, Benjamin Netanyahu sempat berjanji untuk menghancurkan rezim Iran dan melumpuhkan kemampuan militernya, termasuk program rudal balistik.
Namun, hasil akhir justru menunjukkan hal sebaliknya. Pemerintahan Iran tetap bertahan, bahkan disebut semakin kuat secara strategis.
Selain itu, Iran juga masih memegang kendali penting di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia.
Risiko Konflik Baru
Tokoh politik lain seperti Avigdor Lieberman mengingatkan bahwa gencatan senjata ini justru memberi waktu bagi Iran untuk menguatkan kembali kekuatannya.
Ia khawatir Israel akan dipaksa menghadapi konflik baru di masa depan dengan kondisi yang lebih sulit dan biaya yang lebih besar.
Situasi semakin memanas ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Lebanon hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan.
Ancaman Gencatan Senjata Gagal
Langkah Israel tersebut berpotensi menggagalkan kesepakatan yang baru saja dicapai.
Iran bahkan memperingatkan akan kembali meluncurkan serangan rudal jika Israel tidak menghentikan aksi militernya.
Di sisi lain, Israel bersikeras bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata, meskipun mediator internasional menyebut perjanjian berlaku lebih luas.
Situasi Timur Tengah Masih Memanas
Teman Voks, meski gencatan senjata telah disepakati, kondisi di kawasan Timur Tengah masih jauh dari kata stabil.
Ketegangan politik di dalam negeri Israel, ditambah potensi konflik lanjutan dengan Iran dan sekutunya, membuat situasi ke depan masih penuh ketidakpastian.
Apakah gencatan senjata ini benar-benar menjadi jalan menuju perdamaian, atau hanya jeda sebelum konflik berikutnya? Waktu yang akan menjawab.