Target Pertumbuhan Ekonomi China Turun, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Bandung, Voks Radio – Teman Voks, pemerintah China baru saja mengumumkan target pertumbuhan ekonomi terbaru yang menjadi salah satu yang terendah dalam beberapa dekade terakhir. Keputusan ini bukan hanya menjadi sorotan dunia internasional, tetapi juga berpotensi membawa dampak bagi berbagai negara, termasuk Indonesia yang memiliki hubungan ekonomi sangat erat dengan Negeri Tirai Bambu tersebut.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam rangkaian sidang tahunan yang dikenal sebagai Two Sessions. Agenda ini merupakan dua forum politik paling penting di China yang mencakup pertemuan National People’s Congress serta Chinese People’s Political Consultative Conference.
Dalam forum inilah pemerintah China biasanya mengumumkan arah kebijakan ekonomi, politik, hingga prioritas pembangunan untuk satu tahun ke depan.
Target Pertumbuhan Terendah dalam Tiga Dekade
Dalam sidang pembukaan yang digelar di Great Hall of the People, Beijing, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini berada di kisaran 4,5 hingga 5 persen.
Target tersebut disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Li Qiang saat membacakan laporan kerja pemerintah dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional pada Kamis, 5 Maret 2026.
Angka tersebut menjadi salah satu target pertumbuhan terendah sejak awal 1990-an, bahkan disebut sebagai yang paling rendah sejak tahun 1991. Selain itu, keputusan ini juga menandai penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk pertama kalinya sejak 2023.
Penurunan target ini pada dasarnya mencerminkan pengakuan pemerintah China bahwa tekanan ekonomi di dalam negeri masih cukup besar.
Tantangan Ekonomi di Dalam Negeri
Dalam laporan kerjanya, pemerintah China menyoroti sejumlah persoalan yang masih membebani laju pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Beberapa faktor utama yang disebutkan antara lain melemahnya permintaan domestik, krisis yang berkepanjangan di sektor properti, serta meningkatnya beban utang pemerintah daerah.
Ketiga faktor ini membuat proses pemulihan ekonomi China berjalan lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya. Karena itu, pemerintah memilih memasang target pertumbuhan yang lebih realistis.
Di sisi lain, kondisi global juga turut memberikan tekanan tambahan bagi perekonomian China. Ketidakpastian ekonomi dunia, tensi geopolitik, serta potensi konflik perdagangan menjadi tantangan eksternal yang tidak bisa diabaikan.
Salah satu isu yang turut disoroti adalah potensi dinamika tarif perdagangan dengan Amerika Serikat. Ketegangan dagang antara kedua negara tersebut dinilai masih berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan global.
Dampaknya bagi Indonesia
Teman Voks, perlambatan ekonomi China tentu tidak bisa dipandang sebelah mata oleh Indonesia. Pasalnya, China masih menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China pada 2025 mencapai sekitar 64,82 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Artinya, ketika ekonomi China melambat, permintaan terhadap berbagai produk ekspor Indonesia juga berpotensi ikut menurun.
Beberapa sektor yang paling rentan terdampak adalah komoditas dan bahan baku industri. Produk-produk seperti mineral, bahan tambang, serta bahan baku manufaktur selama ini banyak dikirim ke China untuk mendukung aktivitas industri mereka.
Jika pertumbuhan ekonomi China melemah, kebutuhan terhadap bahan baku tersebut juga bisa ikut berkurang.
Pengaruh terhadap Harga Komoditas
Perlambatan ekonomi China juga dapat memengaruhi harga komoditas global. Negara tersebut merupakan konsumen besar berbagai bahan mentah dunia, mulai dari logam, batu bara, hingga produk energi.
Ketika aktivitas industri di China melambat, permintaan terhadap komoditas biasanya ikut turun. Kondisi ini berpotensi menekan harga komoditas di pasar global.
Bagi Indonesia, situasi tersebut tentu perlu diwaspadai karena sektor komoditas masih menjadi salah satu penopang utama ekspor nasional.
Jika harga komoditas melemah, kontribusi sektor ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi domestik juga bisa ikut menurun.
Dampak terhadap Investasi
Selain perdagangan, kanal lain yang juga perlu dicermati adalah investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia.
Data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan bahwa realisasi investasi China di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 7,5 miliar dolar AS.
Meski sedikit turun dibandingkan 2024 yang mencapai 8,1 miliar dolar AS, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa China masih menjadi salah satu sumber investasi asing penting bagi Indonesia.
Investasi tersebut banyak mengalir ke sektor hilirisasi, pengolahan mineral, manufaktur, energi, hingga kawasan industri.
Namun jika ekonomi China melambat, perusahaan-perusahaan dari negara tersebut bisa menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi investasi ke luar negeri.
Akibatnya, beberapa proyek baru atau rencana ekspansi di Indonesia berpotensi mengalami perlambatan.
Dampak Nyata bagi Pertumbuhan Ekonomi
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri pernah mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi China memiliki dampak langsung terhadap Indonesia.
Menurut perhitungannya, setiap perlambatan satu persen pertumbuhan ekonomi China dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.
Hal ini terjadi karena hubungan perdagangan kedua negara yang sangat kuat. Ketika ekonomi China melemah, kinerja ekspor Indonesia biasanya ikut tertekan.
Sinyal yang Perlu Diwaspadai
Teman Voks, penurunan target pertumbuhan ekonomi China ini menjadi sinyal penting bagi perekonomian global. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut perlu dicermati dengan serius karena berpotensi memengaruhi ekspor, harga komoditas, hingga arus investasi.
Semakin dalam perlambatan ekonomi China, semakin besar pula kemungkinan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.
Karena itu, pemerintah dan pelaku ekonomi di dalam negeri perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa muncul dari perubahan kondisi ekonomi global ini.