Didiagnosis Diabetes Tipe 1 di Usia Muda, Rexi Edgar Bangkit dan Jadi Inspirasi
Bandung, Voks Radio – Seorang pria asal Denpasar, Bali, Rexi Edgar, membagikan kisah perjuangannya setelah didiagnosis diabetes melitus tipe 1 pada 26 Maret 2018. Diagnosis tersebut menjadi titik balik besar dalam hidupnya.
Saat itu, Rexi mengalami penurunan berat badan drastis hingga hampir 20 kilogram meski tidak sedang menjalani program diet. Ia juga merasakan haus berlebihan yang sulit hilang, sering buang air kecil bahkan hingga terbangun pada malam hari, serta merasa lemas berkepanjangan. Gejala-gejala tersebut muncul secara perlahan dan semakin memburuk selama beberapa bulan.
“Aku didiagnosis diabetes tipe 1 and nope, ini bukan karena gaya hidup atau kebanyakan makan manis. Ini kondisi autoimun atau genetik, di mana sistem imun aku menyerang pankreasku sendiri sehingga tidak bisa lagi memproduksi insulin,” ujarnya, dikutip dari akun Instagram pribadinya.
Bukan Karena Pola Hidup
Rexi menegaskan bahwa diabetes tipe 1 berbeda dengan diabetes tipe 2 yang sering dikaitkan dengan pola makan dan gaya hidup. Pada diabetes tipe 1, sistem imun justru menyerang sel beta pankreas yang berfungsi memproduksi insulin.
Karena merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, ia akhirnya memutuskan memeriksakan diri ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah puasa (GDP) dan Hemoglobin A1c (HbA1c) miliknya sangat tinggi. Dokter kemudian memastikan diagnosis diabetes tipe 1.
Kabar tersebut tentu berdampak besar secara fisik maupun mental. Di usia yang masih sangat muda, Rexi harus menerima kenyataan bahwa dirinya membutuhkan suntikan insulin seumur hidup.
Suntik Insulin Empat Kali Sehari
Sejak didiagnosis, Rexi harus menyuntikkan insulin hingga empat kali sehari untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil. Selain itu, ia juga harus rutin memantau gula darah setiap hari guna menghindari lonjakan (hiperglikemia) maupun penurunan drastis (hipoglikemia).
Fluktuasi kadar gula darah menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas harian, pola makan, stres, hingga olahraga bisa memengaruhi angka gula darah secara signifikan. Kondisi ini menuntut kedisiplinan tinggi dalam pengelolaan diri.
Namun, seiring berjalannya waktu, Rexi mulai beradaptasi dan belajar berdamai dengan penyakitnya.
“Fast forward to 8 years later, aku memang belum sembuh, dan mungkin tidak akan? But I’m totally fine. Butuh waktu lima tahun buat benar-benar berdamai, dan justru kondisi ini yang nge-push aku buat hidup lebih baik,” tuturnya.
Bangkit dan Lebih Sehat
Alih-alih menyerah, Rexi justru menjadikan diagnosis tersebut sebagai motivasi untuk menjalani hidup lebih sehat. Ia mengatur pola makan secara disiplin, rutin berolahraga, serta konsisten menjalani terapi insulin.
Kini, selama kadar gula darahnya terkontrol dalam rentang normal, ia dapat beraktivitas tanpa keluhan berarti. Ia bahkan rutin pergi ke gym dan mengikuti lomba lari half marathon—aktivitas yang menuntut stamina dan manajemen kondisi tubuh yang baik.
“Saya sekarang bisa rutin ngegym, bisa lari half marathon, punya badan yang ideal, aktif volunteering mengajar anak-anak di sekolah minggu, dan bahkan dengan kondisiku ini banyak orang yang menjadi terinspirasi,” lanjutnya.
Kisah Rexi menjadi pengingat bahwa diabetes tipe 1 bukanlah akhir dari segalanya. Meski tidak dapat disembuhkan, kondisi ini dapat dikelola dengan baik melalui terapi insulin, pemantauan gula darah, pola makan seimbang, serta gaya hidup aktif.
Pentingnya Deteksi Dini
Gejala yang dialami Rexi—penurunan berat badan drastis, sering haus, sering buang air kecil, dan mudah lelah—merupakan tanda klasik diabetes tipe 1. Deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti ketoasidosis diabetik.
Melalui pengalamannya, Rexi berharap semakin banyak orang memahami bahwa diabetes tipe 1 adalah kondisi autoimun, bukan akibat “terlalu banyak makan manis”. Edukasi yang tepat diharapkan dapat mengurangi stigma sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat.
Teman Voks, kisah Rexi Edgar membuktikan bahwa dengan penerimaan, disiplin, dan pola hidup sehat, seseorang dengan diabetes tipe 1 tetap bisa berprestasi, aktif, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.