Bukan Cuma Sunnah, Ini Manfaat Kurma untuk Buka Puasa
Bandung, Voks Radio – Teman Voks, kebiasaan berbuka puasa dengan kurma ternyata bukan sekadar tradisi turun-temurun. Di balik anjuran tersebut, tersimpan manfaat kesehatan yang sudah dikenal sejak lama.
Dilansir dari BBC News Indonesia, kurma menjadi salah satu makanan yang dianjurkan untuk berbuka puasa sejak zaman Muhammad. Selain memiliki nilai sunnah dalam ajaran Islam, buah manis ini juga menyimpan kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh setelah berjam-jam menahan lapar dan haus.
Sumber Energi yang Cepat Diserap
Setelah seharian berpuasa, kadar gula darah dalam tubuh cenderung menurun. Karena itu, tubuh memerlukan asupan gula alami untuk mengembalikan energi secara cepat namun tetap aman bagi sistem pencernaan.
Kurma mengandung glukosa dan fruktosa, dua jenis gula alami yang mudah diserap tubuh. Kandungan ini membantu meningkatkan energi secara bertahap tanpa membuat perut terasa “kaget”, seperti yang bisa terjadi jika langsung mengonsumsi makanan berat dalam jumlah banyak.
Membantu Menjaga Keseimbangan Tubuh
Meski dikenal sebagai buah kering, kurma tetap memiliki kandungan air, serat, vitamin, serta mineral seperti kalium dan magnesium. Kombinasi nutrisi ini membantu tubuh beradaptasi kembali setelah seharian tidak mendapat asupan cairan dan makanan.
Serat dalam kurma juga berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Dengan begitu, sistem metabolisme bisa “bangun” secara perlahan sebelum menerima makanan utama.
Cara Lembut Mengawali Makan
Berbuka dengan kurma sering disebut sebagai cara yang lembut untuk memulai kembali proses metabolisme. Dibanding langsung menyantap hidangan berat, kurma memberi waktu bagi lambung dan organ pencernaan untuk menyesuaikan diri.
Itulah sebabnya, pilihan sederhana ini bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga selaras dengan prinsip kesehatan modern.
Teman Voks, jadi kalau selama ini kamu berbuka dengan kurma hanya karena kebiasaan atau mengikuti sunnah, sekarang kamu tahu bahwa keputusan tersebut juga punya dasar ilmiah. Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang memilih cara yang lebih bijak dan sehat untuk menjaga tubuh tetap prima.