Sampah Bandung Terancam Menumpuk, Pemkot Andalkan Kekuatan RW Lewat Program Gaslah

Sampah Bandung Terancam Menumpuk, Pemkot Andalkan Kekuatan RW Lewat Program Gaslah

Bandung — Teman Voks, persoalan sampah di Kota Bandung kembali memasuki fase krusial. Pengurangan jatah pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebesar 20 persen atau sekitar 300 ton per hari membuat Pemerintah Kota Bandung harus memutar otak lebih cepat. Jika tak ditangani serius, potensi penumpukan sampah harian bisa kembali menghantui kota ini.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa situasi tersebut memaksa Pemkot Bandung untuk mengubah pendekatan. Penanganan sampah kini tidak bisa lagi bergantung pada sistem lama, melainkan harus bertumpu pada kekuatan wilayah, khususnya di tingkat RW.

“Sampah kita terancam lagi karena TPA Sarimukti mengurangi jatahnya 20 persen atau sekitar 300 ton. Artinya, setiap hari ada potensi tumpukan sampah sebanyak itu di Kota Bandung. Maka andalan kita adalah wilayah,” ujar Farhan saat menghadiri Siskamling Siaga Bencana ke-81 di Kelurahan Sadang Serang, Rabu (4/2/2026).

Gaslah Jadi Garda Terdepan di Tingkat RW

Salah satu strategi utama Pemkot Bandung adalah mengoptimalkan peran Gaslah atau Petugas Pemilah. Program ini diposisikan sebagai ujung tombak pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

Menurut Farhan, Bandung harus berani menjadi kota pelopor yang menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah dan diselesaikan di tingkat RW. Dengan sistem ini, sampah organik tidak lagi menumpuk di TPS, melainkan diolah langsung di wilayah.

“Bandung harus jadi kota pertama yang melakukan pemilahan dari rumah dan diselesaikan di RW. Semua sampah organik harus selesai di RW. Sampah non-organik baru diangkut sesuai jadwal. Kita mulai menerapkan prinsip: sampah hari ini, habis hari ini,” jelasnya.

Pendekatan ini diharapkan dapat memotong rantai persoalan sampah sejak awal, sekaligus mengurangi beban pengangkutan ke TPA.

Tidak Semua RW Siap, Pemkot Siapkan Skema Transisi

Di lapangan, Farhan mengakui bahwa tidak semua RW memiliki fasilitas pengolahan sampah yang memadai. Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Bandung menyiapkan skema transisi.

Pengolahan sementara akan dibantu melalui penampungan di tingkat kelurahan, dukungan petugas, pemanfaatan maggot plasma, serta sentralisasi di lokasi-lokasi yang memiliki lahan cukup luas.

Khusus di Kelurahan Sadang Serang, Farhan memaparkan perhitungan konkret. Dengan 21 RW dan asumsi setiap RW menghasilkan sekitar 25 kilogram sampah organik per hari, maka terdapat sekitar 525 kilogram sampah organik yang harus dikelola setiap harinya hanya dari satu kelurahan.

“Ini baru satu kawasan. Kalau tidak dikelola dari bawah, bisa dibayangkan dampaknya ke kota,” kata Farhan.

Kompos Dijamin Diserap Pemkot Bandung

Hasil utama dari pengolahan sampah organik di tingkat RW adalah kompos. Farhan memastikan, warga tidak perlu khawatir soal hasil produksi kompos yang berlebih. Pemkot Bandung menjamin seluruh kompos yang dihasilkan akan diserap, selama ada koordinasi dan pelaporan.

“Jangan khawatir, kompos 100 persen akan diambil oleh Pemkot asal diinformasikan. Koordinasi dengan DLH mengenai surplus produksi. Kompos ini sangat berguna,” ujarnya.

Kompos tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk berbagai program ketahanan pangan dan lingkungan di Kota Bandung.

Integrasi Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Dahsat

Lebih jauh, Farhan merancang integrasi antarpogram yang sudah berjalan di Kota Bandung. Program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), Buruan Sae, dan Dapur Dahsat akan dihubungkan dalam satu siklus berkelanjutan.

Skemanya sederhana namun saling menguatkan. Sampah organik diolah menjadi kompos di tingkat RW. Kompos dimanfaatkan untuk Buruan Sae sebagai sumber pangan. Hasil panennya kemudian digunakan oleh Dapur Dahsat. Sisa sampah dari aktivitas tersebut kembali diolah menjadi kompos.

“Kompos hasil pengolahan sampah harus 100 persen dimanfaatkan oleh buruan sae. Hasil panen buruan sae dimanfaatkan oleh dapur dahsat. Sisa sampahnya kembali diolah lagi,” tutur Farhan.

Menuju Penanganan Sampah yang Mandiri dan Berkelanjutan

Melalui pendekatan berbasis wilayah dan penguatan peran Gaslah di tingkat RW, Pemkot Bandung menargetkan sistem penanganan sampah yang lebih mandiri, cepat, dan berkelanjutan. Tantangannya tidak kecil, namun Farhan optimistis jika semua wilayah bergerak bersama, persoalan sampah bisa dikendalikan dari hulunya.

Bagi Teman Voks, upaya ini juga menjadi pengingat bahwa urusan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi dimulai dari rumah, dari lingkungan terdekat, dan dari kebiasaan sehari-hari. Bandung bersih, jika semua wilayah ikut ambil bagian.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

wali-kota-bandung-muhammad-farhan
Libur Lebaran 2026, Wali Kota Prediksi 700 Ribu Wisatawan Masuk ke Bandung
cfd62a26b4e0
Aisyah Ar-Rumy Raih Juara 2 di Dubai International Holy Quran Award 2026, Harumkan Nama Indonesia
kunjungi-indicator-indonesia-menbud-dorong-dashboard-kebudayaan-nasional-1772598393254_169
Menbud Fadli Zon Kunjungi Indonesia Indicator, Dorong Dashboard Kebudayaan Nasional
cek-daging
Harga Daging Sapi Sentuh Rp160 Ribu per Kilogram, Bapanas Turun Langsung ke Pasar Kosambi
laparpuasa-min
Puasa Kok Bikin Lemas? Jangan-Jangan Polamu yang Keliru

#ADVERTISE