Fenomena Sewa iPhone Jelang Lebaran dan Natal, Antara Gengsi Sosial dan Tekanan Psikologis
Bandung — Teman Voks, menjelang momen-momen besar seperti Lebaran dan Natal, muncul satu fenomena menarik di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan anak muda: penyewaan iPhone. Bukan untuk kebutuhan kerja atau produktivitas jangka panjang, ponsel premium ini kerap disewa demi tampil lebih percaya diri saat berkumpul bersama keluarga, menghadiri acara sosial, hingga mempercantik unggahan di media sosial.
Fenomena ini bukan hal baru, namun intensitasnya kian terasa setiap mendekati hari raya atau momen spesial. Di berbagai platform media sosial dan marketplace, jasa sewa iPhone ditawarkan dengan beragam paket, mulai dari hitungan harian hingga mingguan. Model-model terbaru pun jadi primadona karena dianggap mampu meningkatkan citra diri penggunanya.
Gengsi Digital dan Tekanan Lingkungan Sosial
Psikolog Novita Tandry menilai, perilaku menyewa iPhone tidak bisa dilepaskan dari tekanan sosial yang semakin kuat di era digital. Media sosial secara tidak langsung membentuk standar tertentu tentang “penampilan ideal”, termasuk soal gawai yang digunakan.
“Banyak orang ingin terlihat setara atau bahkan lebih unggul secara simbolik. iPhone bukan sekadar alat komunikasi, tapi sudah menjadi simbol status sosial,” jelas Novita.
Keinginan untuk diakui, dianggap mampu, atau tidak tertinggal dari lingkungan sekitar sering kali mendorong seseorang mengambil keputusan instan, meski bersifat sementara. Dalam konteks ini, menyewa iPhone menjadi jalan tengah bagi mereka yang ingin tampil ‘selevel’ tanpa harus membeli dengan harga mahal.
Namun, Novita mengingatkan bahwa jika dorongan tersebut lebih didasari rasa takut dinilai rendah oleh orang lain, maka hal itu bisa menjadi tanda tekanan psikologis yang perlu diwaspadai.
Dampak ke Kesehatan Mental dan Finansial
Pandangan serupa disampaikan oleh psikiater Leonardo Lalenoh. Menurutnya, kebiasaan menyewa barang mewah demi validasi sosial berpotensi menimbulkan masalah yang lebih dalam, baik secara mental maupun finansial.
“Kalau dilakukan sesekali dan disadari sebagai hiburan, mungkin tidak masalah. Tapi jika terus diulang dan menjadi kebutuhan semu, itu bisa berdampak pada kecemasan, rendah diri, hingga masalah pengelolaan keuangan,” ujar Leonardo.
Ia menambahkan, seseorang bisa terjebak dalam pola pikir membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Ketika validasi diri hanya bertumpu pada citra luar, kepuasan yang dirasakan pun cenderung singkat dan mudah hilang.
Dari sisi finansial, meski biaya sewa terlihat lebih ringan dibanding membeli, pengeluaran berulang untuk kebutuhan non-esensial tetap berisiko mengganggu kestabilan keuangan, terutama bagi pelajar dan pekerja muda.
Antara Kebutuhan Nyata dan Dorongan Sesaat
Tidak dapat dimungkiri, menyewa iPhone memang bisa menjadi solusi praktis dalam situasi tertentu. Misalnya untuk kebutuhan produksi konten, pekerjaan singkat, atau dokumentasi acara penting. Masalah muncul ketika keputusan tersebut semata-mata didorong oleh tekanan sosial dan keinginan untuk terlihat ‘lebih’ di mata orang lain.
Teman Voks, penting untuk bertanya pada diri sendiri sebelum mengikuti tren ini: apakah benar dibutuhkan, atau hanya takut dianggap kurang oleh lingkungan? Kesadaran ini menjadi kunci agar kita tidak terjebak dalam siklus konsumsi simbolik yang melelahkan secara mental.
Bijak Menghadapi Tren Gengsi Digital
Fenomena sewa iPhone mencerminkan bagaimana nilai sosial kini banyak bergeser ke ranah digital. Validasi tidak lagi hanya datang dari interaksi langsung, tetapi juga dari layar ponsel dan jumlah likes di media sosial.
Para ahli sepakat, kunci utama menghadapi tren ini adalah kesadaran diri. Mengenali batas kemampuan finansial, membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada atribut luar, serta menggunakan teknologi sesuai fungsi dan kebutuhan.
Pada akhirnya, momen Lebaran dan Natal sejatinya adalah tentang kebersamaan, bukan soal perangkat yang ada di tangan. Tampil apa adanya, nyaman dengan diri sendiri, dan tidak terjebak dalam tekanan sosial justru bisa membuat momen spesial terasa lebih bermakna.