Satu dari Delapan Orang Alami Gangguan Jiwa, Pakar Ingatkan Kesehatan Mental Jadi Isu Serius di Indonesia

Satu dari Delapan Orang Alami Gangguan Jiwa, Pakar Ingatkan Kesehatan Mental Jadi Isu Serius di Indonesia

Bandung — Teman Voks, isu kesehatan mental kembali menjadi perhatian setelah Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkap data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait prevalensi gangguan kesehatan jiwa secara global. Berdasarkan data tersebut, sekitar 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang di dunia berpotensi mengalami masalah kejiwaan.

Jika angka ini diterapkan pada kondisi Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, maka setidaknya ada sekitar 28 juta orang yang berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini tentu bukan jumlah yang kecil dan mencerminkan persoalan serius yang perlu ditangani bersama.

Pakar: Angka Itu Masuk Akal

Dosen IPB University sekaligus psikiater, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menilai data yang disampaikan WHO tersebut bukanlah angka yang berlebihan. Menurutnya, tingginya potensi masalah kejiwaan di Indonesia justru sangat masuk akal jika melihat berbagai tekanan hidup yang dihadapi masyarakat saat ini.

“Angka itu sangat bergantung pada apa yang dimaksud dengan masalah kejiwaan dan dari data tahun berapa angka tersebut diambil,” ujar dr Riati, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (28/1/2026).

Ia menekankan bahwa yang terpenting bukan sekadar besarnya angka, melainkan pemahaman yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan gangguan kejiwaan. Apakah hanya mencakup gangguan jiwa berat, atau juga termasuk stres, kecemasan, depresi ringan, hingga gangguan emosional lainnya.

“Apa pun definisinya, angka tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan persoalan serius yang dialami jutaan orang di Indonesia dan perlu penanganan yang lebih sungguh-sungguh,” tegasnya.

Enam Kelompok dengan Risiko Tinggi Gangguan Kejiwaan

Menurut dr Riati, gangguan kejiwaan tidak menyerang secara acak. Ada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental.

1. Anak-anak dan Remaja
Anak-anak yang memasuki masa remaja berada pada fase pencarian jati diri dan perkembangan emosi yang belum stabil. Tekanan akademik, pergaulan, perundungan, hingga paparan media sosial menjadi faktor yang membuat kelompok ini rentan mengalami stres dan gangguan emosional.

2. Pekerja Usia Produktif
Kelompok usia produktif juga tak luput dari risiko. Tuntutan pekerjaan, target perusahaan, persaingan karier, hingga tekanan ekonomi keluarga sering kali memicu stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan depresi.

3. Perempuan
Perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental karena kombinasi faktor biologis, seperti perubahan hormon, serta peran ganda sebagai pekerja dan pengelola rumah tangga. Selain itu, perempuan juga lebih sering menjadi korban kekerasan psikologis maupun tekanan relasi.

4. Masyarakat Perkotaan
Hidup di kota besar identik dengan ritme cepat, persaingan ketat, biaya hidup tinggi, dan minimnya ruang sosial. Kondisi ini membuat masyarakat perkotaan lebih mudah mengalami tekanan mental dalam keseharian.

Tekanan sosial dan ekonomi seperti masalah keuangan, pengangguran, konflik keluarga, dan tuntutan sosial juga memperbesar risiko gangguan kejiwaan.

5. Masyarakat dengan Akses Terbatas ke Layanan Kesehatan Mental
Kelompok masyarakat yang minim akses layanan kesehatan mental sering kali terjebak stigma. Akibatnya, mereka enggan atau takut mencari bantuan profesional meski mengalami gangguan psikologis.

6. Lansia
Kelompok lanjut usia juga tergolong rentan. Penurunan kondisi fisik, kehilangan pasangan hidup, memasuki masa pensiun, rasa kesepian, hingga perasaan tidak lagi berguna menjadi pemicu utama gangguan mental pada lansia.

Gangguan Jiwa Bersifat Multifaktorial

Teman Voks, dr Riati menegaskan bahwa gangguan kejiwaan tidak muncul dari satu penyebab tunggal. Masalah ini bersifat multifaktorial, melibatkan faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berkaitan.

“Faktor-faktor tersebut dapat memicu gangguan jiwa ketika tidak berada dalam kondisi seimbang,” jelasnya.

Artinya, kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh keseimbangan hidup secara menyeluruh, bukan hanya kondisi pikiran semata.

Pencegahan Jadi Tanggung Jawab Bersama

Menurut dr Riati, upaya pencegahan gangguan kejiwaan tidak bisa dibebankan pada individu saja. Semua pihak memiliki peran penting.

Individu diharapkan menjaga pola hidup seimbang, keluarga dan lingkungan perlu menciptakan suasana yang suportif, sementara sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas perundungan.

“Masyarakat diharapkan dapat mengurangi stigma, sementara pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan mental mudah diakses dan edukasi kesehatan mental diperluas,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala awal gangguan kejiwaan melalui deteksi dan skrining sederhana, agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.

“Mari hapus stigma agar tidak ada lagi yang takut atau malu mencari bantuan. Ciptakan lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat kerja yang aman, saling mendukung, dan tidak menghakimi,” pungkasnya.

Teman Voks, tingginya angka potensi gangguan kejiwaan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kesadaran, empati, dan dukungan bersama menjadi kunci agar jutaan orang tidak merasa sendirian dalam menghadapi persoalan mental mereka.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

1040201781
Kakang Rudianto Resmi Menikah, Datang ke Laga Persib dengan Semangat dan Tanggung Jawab Baru
67b19d22b0376
Farhan Tegaskan Bandung Siap Ikuti Arahan Presiden Prabowo soal Penanganan Sampah
drama-korea-spring-fever-1767935586963_169
5 Drama Korea Ringan yang Cocok Jadi Pelepas Penat di Tengah Kesibukan
timnas-indonesia-1769523807522
Timnas Futsal Indonesia Tantang Vietnam di Perempat Final Piala Asia Futsal 2026
67b19d2fd0718
Farhan Tegaskan Bandung Tak Boleh Jadi Kota yang Membuat Betah Tunawisma

#ADVERTISE