Turki Desak AS Tak Picu Perang Baru dengan Iran, Dorong Jalur Diplomasi

Turki Desak AS Tak Picu Perang Baru dengan Iran, Dorong Jalur Diplomasi

Bandung — Teman Voks, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan dunia internasional. Di tengah situasi yang memanas, Turki secara terbuka mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak memicu perang baru dengan Iran, terutama terkait isu program nuklir Teheran.

Desakan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan. Ia menilai opsi militer yang kembali diangkat oleh Washington merupakan langkah keliru dan berpotensi membawa dampak yang sangat mengerikan, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga bagi Amerika Serikat sendiri.

Turki Nilai Perang Bukan Solusi

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Hakan Fidan menegaskan bahwa memulai perang baru terhadap Iran adalah keputusan yang salah. Menurutnya, konflik bersenjata justru akan memperumit situasi dan menimbulkan konsekuensi jangka panjang yang sulit dikendalikan.

“Keliru jika memulai perang lagi,” ujar Fidan.

Ia menekankan bahwa persoalan nuklir Iran masih memiliki ruang untuk diselesaikan melalui jalur diplomasi. Fidan menyebut Iran saat ini menunjukkan kesiapan untuk kembali duduk di meja perundingan guna membahas program nuklirnya.

“Iran siap untuk kembali menegosiasikan masalah nuklir,” ucapnya.

Dorong Dialog Bertahap, Bukan Tekanan Total

Fidan menyarankan agar Amerika Serikat tidak memaksakan penyelesaian semua persoalan sekaligus kepada Iran. Menurutnya, pendekatan bertahap akan jauh lebih efektif dibandingkan tekanan besar-besaran yang berisiko memicu konflik terbuka.

“Saran saya kepada teman-teman Amerika, selesaikan satu-satu masalah dengan Iran. Mulailah dengan masalah nuklir, tutup. Lalu, lanjut ke yang lainnya,” kata Fidan.

Ia menilai jika Washington mencoba menyelesaikan semua isu dalam satu waktu, hal itu akan sulit diterima oleh Iran dan berpotensi menggagalkan proses diplomasi yang seharusnya bisa dibangun.

“Jika Anda menyelesaikan semuanya sekaligus, akan sangat sulit bagi teman-teman Iran untuk mencerna dan benar-benar memprosesnya,” imbuhnya.

Ketegangan AS–Iran Kembali Memanas

Hubungan Amerika Serikat dan Iran memang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Perselisihan kedua negara dipicu oleh situasi dalam negeri Iran yang dilanda demonstrasi berdarah sejak akhir Desember. Aksi protes tersebut dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan memicu sorotan internasional.

Di tengah kondisi itu, Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman akan menyerang Iran jika Teheran tidak melanjutkan perundingan dan mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Ancaman tersebut diperkuat dengan kehadiran kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di kawasan Timur Tengah.

Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai sinyal kesiapan militer AS apabila opsi diplomasi dianggap gagal.

Iran Tegaskan Tak Gentar Hadapi Ancaman

Menanggapi ancaman dari Washington, Iran menyatakan tidak gentar dan siap menghadapi perang jika diserang. Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Teheran menggelar latihan tempur besar-besaran di kawasan Selat Hormuz sejak Selasa (27/1) hingga Kamis (29/1).

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas energi global dan ekonomi internasional.

Iran juga memperingatkan negara-negara Timur Tengah agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap Teheran. Sejumlah negara Arab pun telah menyatakan komitmennya untuk tidak membiarkan teritori mereka dijadikan basis serangan ke Iran.

Kekhawatiran Dampak Regional dan Global

Peringatan dari Turki mencerminkan kekhawatiran banyak negara bahwa konflik terbuka antara AS dan Iran akan menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam instabilitas yang lebih luas. Perang baru dikhawatirkan memicu eskalasi militer, memperkuat kelompok garis keras, serta mengganggu upaya diplomasi yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Sebagai negara yang memiliki posisi strategis dan hubungan diplomatik dengan berbagai pihak, Turki berupaya mendorong pendekatan damai dan menekan risiko konflik berskala besar.

Diplomasi Dinilai Masih Jadi Jalan Terbaik

Teman Voks, di tengah ancaman dan manuver militer yang terus berkembang, seruan Turki menjadi pengingat bahwa jalur diplomasi masih terbuka dan perlu diutamakan. Banyak pihak menilai perang justru akan memperburuk situasi, baik bagi rakyat Iran, stabilitas kawasan, maupun kepentingan global.

Ke depan, dunia internasional akan terus menanti langkah yang diambil Washington dan Teheran. Apakah ketegangan ini akan berujung pada dialog, atau justru berubah menjadi konflik terbuka, masih menjadi tanda tanya besar yang mengundang kewaspadaan global.

#VOKS UPDATE

#STREAMING

VOKS Radio
Memuat lagu...
Volume: 100%
🔄 Buffering...

#GET NOW

#VOKS UPDATE

surat-siswa-sd-bunuh-diri-1770108904413_169
Tragedi Siswa SD di Ngada NTT, Kecewa Tak Dibelikan Alat Tulis Diduga Jadi Pemicu
timnas-futsal-indonesia-kalahkan-jepang-3_169
Indonesia Tantang Jepang di Semifinal Piala Asia Futsal 2026, Bagaimana Rekor Pertemuan Garuda?
4-september
Resmi, Ini Daftar Cuti Bersama ASN Tahun 2026, Total 8 Hari
prabowo dewan perdamaian gaza setpres 3(1)
Ormas Islam dan Pesantren Sepakat Dukung Langkah Pemerintah Perjuangkan Kemerdekaan Palestina
iphonepalsu-2
Fenomena Sewa iPhone Jelang Lebaran dan Natal, Antara Gengsi Sosial dan Tekanan Psikologis

#ADVERTISE