Bandung Masuk 20 Besar Kota Termacet Dunia, Tetap Nomor Satu di Indonesia
Bandung — Teman Voks, selain dikenal sebagai kota wisata favorit dengan udara sejuk dan ragam kuliner yang menggoda, Bandung juga punya satu “predikat” yang konsisten muncul tiap tahun: kota macet. Terbaru, Bandung kembali masuk daftar kota termacet di dunia versi TomTom Traffic Index 2025.
Dalam laporan yang dirilis Rabu dan dikutip Kamis (22/1/2026), Bandung menempati peringkat ke-16 kota termacet di dunia. Meski turun dari posisi ke-12 pada 2024, tingkat kepadatan lalu lintas Bandung tetap menjadi yang tertinggi di Indonesia.
Tingkat Kemacetan Bandung Masih Tinggi
Berdasarkan TomTom Traffic Index 2025, tingkat kemacetan rata-rata di Bandung mencapai 64,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa waktu perjalanan di Kota Kembang melambat cukup signifikan dibandingkan kondisi ideal tanpa hambatan lalu lintas.
Untuk menempuh jarak 10 kilometer, pengendara di Bandung membutuhkan waktu rata-rata 32 menit 26 detik. Angka ini nyaris tidak berubah dari tahun sebelumnya, menandakan bahwa persoalan kemacetan masih menjadi tantangan serius.
Kecepatan kendaraan saat jam sibuk pun tercatat hanya sekitar 16,3 kilometer per jam, sebuah kecepatan yang kerap membuat perjalanan jarak dekat terasa jauh lebih lama.
Jakarta Ikut Mengalami Lonjakan Kemacetan
Tak hanya Bandung, Jakarta juga menunjukkan tren kemacetan yang memburuk. Pada 2025, waktu tempuh rata-rata perjalanan sejauh 10 kilometer di Ibu Kota mencapai 26 menit 19 detik, naik dibandingkan 2024 yang tercatat 25 menit 31 detik.
Kecepatan kendaraan di jam sibuk Jakarta turun menjadi 17,8 kilometer per jam. Dampaknya, peringkat Jakarta dalam daftar kota termacet dunia melonjak cukup drastis, dari posisi ke-90 pada tahun sebelumnya menjadi peringkat ke-24 dunia pada 2025.
Dengan capaian tersebut, Indonesia kini menempatkan dua kota sekaligus dalam daftar 25 besar kota termacet di dunia.
Bagaimana TomTom Mengukur Kemacetan?
Sebagai informasi, TomTom Traffic Index merupakan platform pemantauan lalu lintas global yang menganalisis tingkat kemacetan berdasarkan data GPS dari jutaan kendaraan di berbagai kota dunia.
Pengukuran dilakukan dengan membandingkan waktu tempuh ideal tanpa hambatan dengan kondisi perjalanan sebenarnya di lapangan. Semakin besar selisih waktu tersebut, semakin tinggi tingkat kemacetan sebuah kota.
Sejumlah faktor memengaruhi hasil analisis, mulai dari perubahan infrastruktur jalan, batas kecepatan, kepadatan kendaraan, hingga pola perjalanan masyarakat di jam sibuk.
Kota Termacet di Dunia Masih Dikuasai Amerika Latin dan Asia
Dalam laporan yang sama, Kota Meksiko kembali dinobatkan sebagai kota termacet di dunia pada 2025 dengan tingkat kemacetan mencapai 75,9 persen. Disusul Bengaluru (India) dan Dublin (Irlandia).
Kota-kota di Asia, Amerika Latin, dan Eropa Timur masih mendominasi daftar teratas, menunjukkan bahwa persoalan kemacetan merupakan tantangan global, terutama di kota besar dengan pertumbuhan kendaraan yang cepat.
Daftar 25 Kota Termacet Dunia Versi TomTom Traffic Index 2025
-
Meksiko City, Meksiko – 75,9%
-
Bengaluru, India – 74,4%
-
Dublin, Irlandia – 72,9%
-
Lodz, Polandia – 72,8%
-
Pune, India – 71,1%
-
Lublin, Polandia – 70,4%
-
Bogota, Kolombia – 69,6%
-
Arequipa, Peru – 69,5%
-
Lima, Peru – 69,3%
-
Bangkok, Thailand – 67,9%
-
Medellin, Kolombia – 66,9%
-
Davao, Filipina – 66,2%
-
Cali, Kolombia – 65,6%
-
Poznan, Polandia – 64,9%
-
Recife, Brasil – 64,7%
-
Bandung, Indonesia – 64,1%
-
Guadalajara, Meksiko – 63,3%
-
Mumbai, India – 63,2%
-
Barranquilla, Kolombia – 62,8%
-
Bucharest, Rumania – 62,5%
-
Istanbul, Turki – 62%
-
Budapest, Hungaria – 61,9%
-
New Delhi, India – 60,2%
-
Jakarta, Indonesia – 59,8%
-
Los Angeles, Amerika Serikat – 59,8%
Tantangan Bandung ke Depan
Masuknya Bandung ke jajaran kota termacet dunia kembali menegaskan pentingnya pembenahan transportasi publik, pengaturan lalu lintas, serta perubahan pola mobilitas masyarakat.
Sebagai kota wisata, pendidikan, dan pusat ekonomi kreatif, Bandung dihadapkan pada tantangan besar untuk menyeimbangkan daya tarik kota dengan kapasitas infrastruktur yang ada.
Nah, Teman Voks, dengan kondisi lalu lintas seperti ini, strategi apa menurut kamu yang paling realistis untuk mengurai kemacetan Bandung ke depan?