Psikolog Ingatkan Resolusi Tahun Baru Bukan Hukuman, Tapi Bentuk Menyayangi Diri
Bandung – Teman Voks, memasuki awal tahun, banyak orang mulai menyusun resolusi sebagai harapan baru. Namun, psikolog klinis di Personal Growth, Phoebe Ramadina, M.Psi., Psikolog, mengingatkan agar resolusi tahun baru tidak dipandang sebagai hukuman atas kekurangan diri, melainkan sebagai bentuk menyayangi diri sendiri.
Menurut Phoebe, resolusi sebaiknya dimulai dari langkah-langkah kecil yang realistis agar bisa dijalani dengan perasaan lebih ringan dan berkelanjutan.
“Mulailah dari langkah kecil yang realistis, fokus pada proses, dan beri apresiasi pada setiap kemajuan sekecil apa pun,” kata Phoebe saat dihubungi ANTARA, Senin.
Jangan Terlalu Berat Sejak Awal
Phoebe menjelaskan, banyak orang menetapkan resolusi yang terlalu umum, terlalu tinggi, atau bahkan terlalu banyak dalam satu waktu. Akibatnya, resolusi terasa berat sejak awal dan berisiko ditinggalkan di tengah jalan.
Ia menekankan pentingnya membuat resolusi yang sesuai dengan kondisi nyata dan nilai hidup masing-masing individu. Resolusi yang tidak selaras dengan kebutuhan pribadi justru bisa memicu rasa tertekan.
“Resolusi yang sehat sebaiknya spesifik, jelas, bisa diukur, dan dapat dilakukan secara bertahap. Resolusi juga perlu relevan dengan kebutuhan emosional dan situasi hidup kita sekarang, bukan sekadar mengikuti standar orang lain,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Hindari Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Teman Voks, Phoebe juga mengingatkan agar tidak membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki ritme, tantangan, dan kapasitas hidup yang berbeda-beda.
Dengan resolusi yang jelas dan terukur, otak akan lebih mudah membangun kebiasaan baru karena target terasa mungkin untuk dicapai, bukan sesuatu yang menakutkan. Resolusi yang dijalani secara bertahap juga lebih memungkinkan untuk dilakukan dengan perasaan senang dan konsisten.
Resolusi Gagal Bukan Berarti Gagal Jadi Manusia
Phoebe menegaskan bahwa resolusi tahun lalu yang tidak tercapai bukanlah tanda kegagalan. Hal tersebut justru bisa menjadi sinyal bahwa ada faktor-faktor tertentu yang perlu dievaluasi, seperti target yang kurang realistis, perubahan kondisi hidup, atau kelelahan fisik dan emosional yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
“Apa yang terpenting adalah melakukan refleksi, bukan menghakimi diri. Kita perlu bertanya dengan jujur pada diri sendiri tentang hambatan apa yang muncul, lalu menyesuaikan kembali target agar lebih sesuai dengan kapasitas kita,” katanya.
Sikap reflektif ini dinilai penting agar seseorang bisa belajar dari pengalaman tanpa tenggelam dalam rasa bersalah yang berlebihan.
Resolusi Sebagai Arah, Bukan Kontrak Mutlak
Lebih lanjut, Phoebe menekankan bahwa resolusi tahunan tidak harus selalu tercapai. Tidak tercapainya resolusi bukan berarti seseorang menjadi pribadi yang gagal atau kurang berharga.
Sebaliknya, hal itu bisa terjadi karena seseorang bertumbuh, mengalami perubahan prioritas hidup, atau menjadi lebih sadar akan batas diri sendiri.
Phoebe menyarankan agar resolusi dipandang sebagai alat refleksi dan arah pertumbuhan, bukan kontrak mutlak yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan dinamika kehidupan.
Jadi, Teman Voks, alih-alih membebani diri dengan daftar resolusi panjang, mungkin tahun ini bisa dimulai dengan satu niat sederhana: lebih jujur pada diri sendiri dan lebih lembut dalam menjalani proses.